Kamis, 02 Agustus 2012
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGERJAKAN TES TOEFL (TEST OF ENGLISH AS A FOREIGN LANGUAGE) MELALUI IMPLEMENTASI TEKNIK MIND MAP ( ExperimentaResearch pada Mahasiswa STAIN Jurai Siwo Metro)
This research is aimed at identifying what difficulties the students have in doing the TOEFL (Test of English as a Foreign Language) test; a standardized test to measure a person’s global English competence. To solve the problems, Mind Map technique, a process of mapping the mind to correlate the certain problems from the neuron cells forming the concept correlation into an understanding and the results is directly expressed in a piece of paper, with an animation that is easily understood by the maker, was implemented. Therefore, this research is also aimed at finding out whether the implementation of Mind Map technique can increase the students’ competence in doing the TOEFL test.
This technique was applied on the basis of the single-group-design experiment, where the research was conducted in one group only. Drawn as one group pre-test + post-test: O1 X O2, this design tries to use the subjects as controls for themselves and omits the control group. This design is also called ‘repeated measures’ design because the subjects are measured two times at its dependent variable. The treatment was conducted 8 times, one pre-test and one post-test. The data was analyzed by using t-test to know the difference between the early and final ability.
Based on the data analysis, it can be concluded that Mind Map technique can increase the subjects’ ability to do the TOEFL test so that their scores can also increase. The results of the analysis shows that the index of tobserved is -11,621 or tabsolute 11,621, higher than the index of ttable at df 30 and significance level of 5%, that is 2,042. Meanwhile, the difficulties the students have include the difficulties in matching the limited test time duration, identifying the pronunciation at listening section, mastering the grammar and vocabulary, as well as understanding the reading text content. The subjects also have positive perception toward the implementation of this technique to increase their ability in doing the test. They consider that Mind Map technique can help them do the test guided, systematically, and enjoyable.
A. PENDAHULUAN
Pada era global yang sedang dihadapi saat ini, kita diibaratkan sedang menjelajah dunia. Karena itu, kita perlu kembali melihat pentingnya keseluruhan pengetahuan tentang pembelajaran dan pengajaran bahasa asing. Dari sekian banyak bahasa yang ada di dunia ini, bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang paling banyak dipelajari di berbagai belahan dunia. Salah satu yang seringkali menjadi keluhan adalah kesulitan dalam mengerjakan tes TOEFL yang merupakan tes kecakapan bahasa Inggris global dan menjadi standar untuk melihat kemampuan seseorang dalam bahasa Inggris secara menyeluruh.
Secara umum, tes TOEFL lebih berorientasi kepada American English, dan sedikit berbeda dengan jenis tes IELTS yang berorientasi kepada British English. Tidak seperti tes IELTS, tes TOEFL ini pada umumnya tidak mempunyai bagian individual interview test. Biasanya tes ini memakan waktu sekitar tiga jam dan diselenggarakan dalam 4 bagian, yaitu bagian listening comprehension (50 butir soal), grammar structure and written expression (40 butir soal), reading comprehension (50 butir soal), dan writing.
Untuk dapat mengerjakan tes tersebut dengan baik dan mendapatkan skor tinggi, sesuai dengan alokasi waktunya, diperlukan teknik-teknik yang tepat. Salah satu alternatif yang dapat diaplikasikan adalah teknik Mind Map. Teknik ini memungkinkan adanya sistem penyimpanan, penarikan data, dan akses yang luar biasa untuk perpustakaan raksasa yang sebenarnya ada di dalam otak manusia yang menakjubkan.
Dengan menggunakan teknik ini peserta dapat mengcover keseluruhan masalah pada butir-butir pada tes TOEFL yang sangat bervariasi dan memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi. Teknik ini dipilih karena dianggap dapat membantu untuk merencana, berkomunikasi, menjadi lebih kreatif, menghemat waktu, menyelesaikan masalah, memusatkan perhatian, menyusun dan menjelaskan pikiran-pikiran, mengingat dengan lebih baik, belajar lebih cepat dan efisien, dan melihat ‘gambar keseluruhan’.
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Jurusan Tarbiyah STAIN Jurai Siwo Metro semester V kelas E, sejumlah 31 mahasiswa. Dibandingkan dengan kelas-kelas yang lain pada angkatan yang sama (angkatan 2008), kelas ini merupakan kelas yang lebih pasif dan kemampuan rata-rata mahasiswanya relatif kurang atau lebih rendah. Dengan demikian, jika data hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa hal tersebut merupakan hasil dari implementasi teknik yang dimaksud dalam penelitian ini.
Mencapai skor TOEFL yang tinggi seringkali menjadi masalah bagi sebagian besar orang, terutama mereka yang diwajibkan untuk mengikuti tes tersebut. Bagi mahasiswa STAIN Jurai Siwo Metro yang diwajibkan untuk memiliki skor TOEFL tertentu sebagai syarat mengikuti ujian skripsi, teknik yang tepat untuk setidaknya dapat mengerjakan tes TOEFL tersebut dengan baik tentu sangat diperlukan. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah “Apakah implementasi teknik Mind Map dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengerjakan tes TOEFL sehingga skornya juga dapat meningkat? Kesulitan-kesulitan apa sajakah yang dihadapi oleh mahasiswa dalam upayanya mengerjakan tes TOEFL?”
Sejalan dengan permasalahan yang akan dikaji, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apasajakah kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa dalam mengerjakan tes TOEFL dan apakah implementasi teknik Mind Map dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengerjakan tes TOEFL.
Penelitian ini merupakan ‘single-group design experimental research’, yaitu penelitian menggunakan desain eksperimen semu. Hanya satu kelas dengan 31 orang subjek yang digunakan sebagai ‘treatment group’ sekaligus ‘control group’. Data diambil dengan memberikan satu kali pre-test dan satu kali post-test. Sementara itu, treatment diberikan sebanyak 8 kali. Selanjutnya, data diolah dengan menggunakan formula t-test.
B. KAJIAN TEORI
1. Pembelajaran Bahasa Inggris: Konsep dan Kompetensi yang Harus Dicapai
Menurut Brown , ketika mempelajari bahasa Inggris, pembelajar dapat dikategorikan pada level beginning (pemula), intermediate (menengah), atau advanced (ahli). Secara singkat, kompetensi yang harus dicapai pada tingkat beginning untuk listening dan speaking skill adalah fungsi-fungsi komunikasi yang otentik dan bermakna. Fungsi-fungsi ini lebih dibatasi oleh grammar, vocabulary, dan length of utterance ketimbang fungsi komunikatifnya. Pada reading dan writing skill, materi lebih ditekankan pada teks-teks yang sederhana dan otentik. Teks iklan, formulir, dan resep merupakan materi yang harus dipelajari pada reading, sementara writing melibatkan formulir, daftar, catatan, dan surat singkat. Aspek-aspek grammar yang harus dikuasai meliputi simple verb, personal pronoun, definite and indefinite articles, singular and plural nouns, dan simple sentence.
Pada level intermediate, kompetensi yang ingin dicapai pada listening-speaking skill adalah menghasilkan ucapan-ucapan yang baru, pembelajar dapat berpartisipasi pada percakapan pendek, bertanya dan menjawab pertanyaan, menemukan alternatif cara menyampaikan makna, dan menyerap informasi dari yang lain. Pada aspek reading dan writing, kompetensi yang harus dicapai semakin kompleks, yaitu dalam hal panjang teks, grammar, dan discourse. Pembelajar harus membaca paragraf, cerita pendek, dan mulai mengaplikasikan skimming dan scanning. Materi writing pun semakin kompleks. Untuk grammar, komponen yang harus dikuasai adalah progressive verb tenses dan clauses.
Selanjutnya, pada level advanced, kompetensi listening dan speaking skill yang harus dicapai adalah pembelajar dapat fokus pada nuansa sosiolinguistik bahasa: register, style, interlocutor status, konteks percakapan, nominasi topik dan tujuan, dan perubahan topik. Pada aspek reading dan writing, keterampilan yang harus dikuasai semakin mendekati kompetensi ‘native speaker’, semisal critical reading, peran skema dalam menginterpretasi teks tertulis, dan menulis dokumen yang terkait dengan profesi seseorang (laporan lab, data-data hasil penelitian, dan sebagainya). Pada aspek grammar, yang ditekankan adalah bentuk-bentuk fungsional, fenomena sosiolinguistik dan pragmatis, serta kompetensi strategis.
2. Tes : Pengertian dan Jenis-jenisnya
Cronbach dalam Mehrens dan Lehmann mendefinisikan tes sebagai suatu prosedur sistematis untuk mengetahui kemampuan seseorang dan menggambarkannya dengan bantuan skala numerik atau sistem kategori. Ada berbagai macam jenis tes, tiap tes memiliki tujuan khusus dan kriteria tertentu meliputi Proficiency Test (Tes Kecakapan), Diagnostic Test (Tes Diagnostik), Placement Test (Tes Penempatan), Achievement Test (Tes Prestasi), dan Aptitude Test (Tes Bakat/Ketangkasan).
Pada masing-masing jenis tes, ada berbagai teknik dan prosedur yang berbeda. Rentangan teknik dan prosedur ini meliputi
penyekoran objektif sampai subjektif, pilihan jawaban terbuka sampai terstruktur atau tertutup, format desain butir pilihan ganda sampai isian singkat, dan kemampuan tertulis sampai lisan.
Tes masing-masing kemampuan dapat difokuskan pada rangkaian kesatuan unit linguistik, dari yang kecil sampai ke yang lebih besar: fonologi dan ortografi, kata, kalimat, dan diskurkus (wacana). Dalam menginterpretasi tes, sangatlah penting untuk mencatat mana unit linguistik yang sedang diteskan. Tes kemampuan lisan dapat berupa tes kelancaran percakapan atau pelafalan serangkaian fonologi tertentu, dan dapat juga berupa bentuk imitasi atau peniruan, respons terstruktur, atau respons bebas. Demikian pula, tes pemahaman listening (menyimak) dapat dikonsentrasikan pada aspek bahasa tertentu atau pada menyimak keseluruhan makna umum. Tes reading dapat mencakup serangkaian unit bahasa dan dapat ditujukan untuk menguji kemampuan memahami teks panjang atau pendek, kalimat tunggal, atau bahkan frasa dan kata. Tes writing dapat berupa tes bentuk terbuka dengan cakupan karangan bebas, ataupun terstruktur untuk menguji dari mulai ejaan yang benar sampai dengan kompetensi tingkat diskurkus.
3. Konsep Tes TOEFL (Test of English as a Foreign Language)
Test of English as a Foreign Language disingkat TOEFL adalah tes bahasa Inggris yang dirancang untuk mengukur penguasaan bahasa Inggris bagi mereka yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris. Tes kemampuan berbahasa Inggris (logat Amerika) ini diperlukan untuk mendaftar masuk ke sekitar 2400 perguruan tinggi di Amerika Serikat, Kanada, dan 80 negara lain di dunia. Tes TOEFL ini pertama kali dikembangkan dan diselenggarakan oleh ETS (Educational Testing Service), sebuah lembaga nirlaba yang berkedudukan di Amerika Serikat untuk semua peserta tes di seluruh dunia. Tes ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1964.
Terdapat dua jenis tes TOEFL, yaitu 1) Paper and Pencil Based TOEFL; dan 2) Computer Based TOEFL. Jenis tes TOEFL yang pertama adalah tes TOEFL yang selama ini dikenal, di mana jawaban dikerjakan dengan menggunakan kertas dan pensil. Sedangkan yang kedua merupakan model tes yang relatif baru karena baru pertama kali diperkenalkan pada tahun 1998. Tes ini menggunakan komputer dalam penyampaian soalnya dan peserta tes akan menjawab tes ini juga melalui komputer.
Untuk keperluan pra-seleksi ataupun keperluan intern suatu lembaga, maka ETS selaku lembaga pengembang dan penyelenggara tes TOEFL juga menyelenggarakan TOEFL ITP(ITP = Institutional Testing Programme). Jumlah soal dan tingkat kesulitan TOEFL ITP tidak berbeda dengan Paper and Pencil Based TOEFL maupun Computer Based TOEFL, karena soal-soal yang digunakan pada TOEFL ITP adalah soal tes TOEFL yang pernah digunakan sebelumnya. Hanya saja, skor TOEFL ITP penggunaannya terbatas. Perguruan tinggi di Amerika misalnya, hanya akan menerima skor yang diperoleh dari Paper and Pencil Based TOEFL atau Computer Based TOEFL.
Selain TOEFL ITP, juga ada TOEFL Prediction/Equivalent Test yang biasanya digunakan untuk memperkirakan skor TOEFL seseorang sebelum yang bersangkutan mengikuti tes TOEFL lainnya (Paper and Pencil Based TOEFL, Computer Based TOEFL, TOEFL ITP). Jenis tes TOEFL Prediction ini umumnya diselenggarakan oleh lembaga/pusat bahasa atau tempat-tempat yang menyelenggarakan pelatihan TOEFL.
Sistem penilaian atau skor yang digunakan untuk Paper and Based TOEFL, TOEFL ITP, TOEFL Prediction Test dan Computer Based TOEFL memang berbeda. Rentang skor yang digunakan oleh Paper and Pencil Based TOEFL, TOEFL ITP, dan TOEFL Prediction Test adalah 310-677, sedangkan rentang skor Computer Based TOEFL adalah 0-300. Tingkat kesulitan soal untuk keseluruhan jenis tes adalah sama, sehingga dapat dikatakan mereka yang memperoleh skor 677 pada Paper and Pencil Based TOEFL diperkirakan akan memperoleh skor 300 pada Computer Based TOEFL, dan sebaliknya jika seorang peserta tes memperoleh skor 213 dalam Computer Based TOEFL maka skor yang bersangkutan pada Paper and Pencil Based TOEFL adalah 550.
4. Mind Map: Teknik Pembuatan, Aturan, dan Aplikasinya
Berbicara tentang teknik, setiap proses pembelajaran membutuhkan teknik yang tepat sesuai dengan tujuan dan kompetensi yang ingin dicapai. Dalam mengerjakan tes TOEFL, kompetensi yang harus dimiliki adalah kompetensi bahasa Inggris secara global atau menyeluruh. Teknik yang dibutuhkan tentunya teknik yang dapat mengintegrasikan kemampuan pikiran untuk memecahkan berbagai masalah dalam pertanyaan tes TOEFL. Oleh karena itu, pada penelitian ini, alternatif teknik yang ditawarkan adalah teknik Mind Map. Apakah teknik Mind Map itu? Tony Buzan mengemukakan satu definisi tentang Mind Map:
“A Mind Map is powerful graphic technique which provides a universal key to unlock the potential of the brain. It harnesses the full range of cortical skill-word, image, number, logic, rhythm, colour, and spatial awareness-in a single, uniquely powerful manner. In so doing, it gives you a freedom to roam the infinite expanses of your brain.”
Dari definisi tersebut dapat diartikan bahwa Mind Map adalah cara mengembangkan pikiran ke segala arah, menangkap berbagai pikiran dalam berbagai sudut. Mind Map mengembangkan cara pikir divergen, berpikir kreatif. Mind Map adalah alat berpikir organisasional yang efektif dan cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi itu ketika dibutuhkan.
5. Aplikasi Teknik Mind Map pada Pengerjaan Tes TOEFL
Secara keseluruhan, ada 43 jurus atau langkah yang diadaptasi dari teknik Mind Map untuk mengerjakan tes TOEFL. Langkah-langkah tersebut dipilah-pilah sesuai dengan bagian atau sesi yang biasanya harus dikerjakan pada tes TOEFL, meliputi Listening Comprehension, Structure and Written Expression, dan Reading Comprehension. Berdasarkan langkah-langkah yang sudah ditetapkan tersebut, subjek akan diminta membuat Mind Map sendiri karena teknik ini akan sangat efektif apabila pengguna membuatnya sendiri sesuai dengan kreativitas masing-masing, meskipun langkah-langkahnya sudah ditetapkan sebelumnya.
Mind Map yang pertama kali harus dibuat adalah langkah-langkah umum mengerjakan tes TOEFL, selanjutnya diikuti dengan langkah-langkah untuk masing-masing sesi. Langkah-langkah pada sesi Listening Comprehension meliputi percakapan pendek yang terdiri dari temukan pengulangan, mencari lawan pernyataan, memperhatikan saran, tentukan lawan pasif dan aktif, perhatikan who dan where, dan perhatikan pernyataan persetujuan. Selanjutnya percakapan panjang yang terdiri dari antisipasi pertanyaan, perhatikan topik, dan perhatikan urutan percakapan. Yang terakhir adalah cerita panjang yang terdiri dari antisipasi pertanyaan, perhatikan topik, dan perhatikan urutan jalan cerita.
Langkah-langkah pada sesi Reading meliputi cari ide utama, temukan detail yang sudah tertulis, temukan detail yang tidak dituliskan, ungkap pernyataan tersirat, cari padanan kata dengan menganalisis kalimat, dan temukan letak kata kunci atau ide. Langkah-langkah pada sesi Structure and Written Expression meliputi cari subjek dan kata kerja, perhatikan object of preposition, perhatikan present participle, perhatikan past participle, tentukan coordinate connectors, cari kata penghubung, kenali noun clause sebagai penghubung, kenali noun clause sebagai subjek, kenali adjective clause sebagai penghubung, kenali adjective clause sebagai subjek, perhatikan pernyataan sebagai prepositional phrases, perhatikan ekspresi jumlah, kenali kata yang bersifat singular, pahami struktur paralel dengan kata penghubung, pahami struktur paralel dengan sepasang kata penghubung, kenali past participle setelah kata have, kenali past participle dan present participle setelah kata Be, kata kerja 1 setelah Modals, perhatikan kata benda singular atau plural, perhatikan kata benda, tentukan kata ganti subjek dan objek, kenali possessive, referensi kata ganti, kata sifat dan kata keterangan, dan kata sifat setelah kata penghubung dari kata kerja.
C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
a. Skor TOEFL Subjek Berdasarkan Hasil Pre-test dengan Tes TOEFL-Prediction
Pre-test dilaksanakan sebelum pemberian treatment berupa implementasi teknik Mind Map kepada subjek. Pre-test dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2011. Berdasarkan hasil tes dapat dilihat bahwa sebagian besar subjek memperoleh skor di bawah kriteria minimum skor TOEFL mahasiswa PBI untuk dapat mengikuti munaqosyah, yaitu 450. Hanya 1 (3,226%) mahasiswa yang memperoleh skor di atas kriteria minimum, yaitu 473. Selebihnya, dari 31 mahasiswa peserta pre-test, sebanyak 30 (94,776%) mahasiswa memperoleh memperoleh skor di bawah kriteria skor minimum. Rerata skor pre-test adalah 340,516. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun subjek adalah mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), mereka ternyata masih mengalami kesulitan untuk memperoleh skor TOEFL-Prediction yang tinggi.
b. Skor TOEFL Subjek Berdasarkan Hasil Post-test dengan Tes TOEFL-Prediction
Setelah sebanyak 8 (delapan) kali treatment diberikan kepada subjek, maka post-test dilaksanakan untuk mengetahui skor TOEFL mereka setelah mendapat treatment.
Berdasarkan skor tes dapat dilihat bahwa 4 orang subjek (12,903%) memperoleh skor di atas kriteria minimum 450. Sementara itu, sebanyak 27 orang subjek (87,097%) memperoleh skor di bawah kriteria minimum. Rerata skor post-test adalah 417,774, meningkat dari rerata skor pre-test yang sebesar 340,516. Meskipun demikian, sebagian besar subjek mengalami peningkatan skor yang cukup signifikan.
c. Perbandingan Skor Pre-test dan Post-test Subjek
Skor subjek pada pre-test dibandingkan dengan skor pada post-test dengan maksud untuk melihat peningkatan atau penurunan skor yang dicapai subjek.Berdasarkan distribusi skor dapat dilihat bahwa sebanyak 30 orang subjek (94,776%) mengalami peningkatan skor; hanya 1 orang subjek (3,226%) yang mengalami penurunan skor. Rerata peningkatan skor adalah 78,667.
d. Hasil Kuesioner Subjek tentang Kesulitan-kesulitan dalam Mengerjakan Tes TOEFL dan Persepsi Subjek terhadap Teknik Mind Map
Dari hasil kuesioner dapat disimpulkan bahwa subjek mengalami kesulitan karena harus menyesuaikan antara waktu yang diberikan dengan jumlah butir soal yang cukup banyak agar tes dapat terselesaikan dengan baik. Secara lebih spesifik, subjek menilai bahwa pembacaan teks dan percakapan pada Listening session terlalu cepat, grammar dan vocabulary pada semua session cukup sulit, dan content pada teks reading cukup sulit. Selain itu, alternatif option jawaban yang sangat serupa seringkali membuat subjek ragu-ragu dalam memilih jawaban.
Sementara itu, hasil kuesioner juga menunjukkan bahwa subjek memiliki respon yang positif terhadap implementasi teknik Mind Map untuk meningkatkan kemampuan mengerjakan tes TOEFL. Dengan demikian, dapat dikatakan mereka memiliki persepsi yang cukup baik tentang teknik ini. Menurut subjek, teknik ini mempermudah mereka memetakan butir-butir soal sesuai dengan karakteristiknya sehingga mereka pun dapat menerapkan strategi apa yang dapat digunakan untuk menjawab suatu butir soal. Teknik ini membuat proses mengerjakan tes TOEFL menjadi lebih sistematis dan menyenangkan.
Selanjutnya, berdasarkan skor yang sudah diperoleh pada pre-test dan post-test, maka dilakukan analisis data untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan kemampuan subjek sebelum dan setelah implementasi teknik Mind Map terhadap mereka. Data diolah dengan menggunakan software SPSS for Windows 16.0. Dari hasil output diperoleh indeks t sebesar-11.621 atau t absolut 11,621. Indeks ini kemudian dibandingkan dengan nilai kritis t pada tabel pada taraf signifikansi 5%. Derajat bebas (df) untuk 31 orang subjek adalah 30, maka diperolehlah indeks ttabel sebesar 2,042. Ini berarti thitung lebih besar daripada ttabel, karenanya hipotesis yang diajukan dapat diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa implementasi teknik Mind Map dapat meningkatkan kemampuan subjek untuk mengerjakan tes TOEFL sehingga skor TOEFL mereka pun dapat meningkat.
D. SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa teknik Mind Map dapat meningkatkan kemampuan subjek untuk mengerjakan tes TOEFL sehingga skor mereka pun dapat meningkat karena indeks thitung sebesar -11,621 atau t absolut 11,621 lebih tinggi dibandingkan indeks ttabel pada df 30 dan taraf signifikansi 5% yang sebesar 2,042. Sementara itu, kesulitan-kesulitan yang dihadapi subjek meliputi kesulitan dalam menyesuaikan durasi waktu tes yang relatif terbatas, pronunciation pada Listening session, grammar dan vocabulary, serta sulitnya content pada teks reading. Subjek juga memiliki persepsi yang positif terhadap implementasi teknik ini untuk mengerjakan tes TOEFL. Menurut subjek, teknik Mind Map dapat membantu mereka mengerjakan tes TOEFL secara terarah, sistematis, dan menyenangkan.
REFERENSI
............., Tes TOEFL, http://www.iief.or .id/ (Dikutip pada tanggal 10 Mei 2011)
............., Tes TOEFL, http://id.wikipedia.org (Dikutip tanggal 10 Mei 2011)
Anggiearanidipta Suma, Jurus-jurus Menjawab Tes TOEFL, www.carajawab.com (Dikutip pada tanggal 14 Mei 2011).
Anthony, Edward, 1989, English Language Teaching: Approach, Method, and Technique, Cambridge: Cambridge University Press.
Brown, Douglas H., 2001, Teaching by Principles: an Interactive Approach to Language Pedagogy, New York: Addison Wesley Longman Inc.
Burhan Nurgiyantoro dkk, 2004, Statistik Terapan untuk Penelitian-penelitian Sosial, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Buzan, Tony, 1993, The Mind Map Book, Florida: Buzan Centres Ltd.
Buzan, Tony, 2010, Buku Pintar Mind Map (edisi terjemahan), Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kachru, Braj, 1992, World Englishes: Approaches, Issues, and Resources, Newburry Park: Sage Publications.
Mehrens, William A. & Lehmann, Irvin J. , 1993, Measurement and Evaluation in Education and Psychology, New York: Holt, Rinehart and Winston, Inc.
Seliger, Herbert W. & Shohamy, Elana, 2003, Second Language Research Methods, Oxford: Oxford University Press.
Sharpe, Pamela J., 2002, How to Prepare for the TOEFL Test, Ohio: The Ohio State University Press.
Senin, 18 April 2011
WRITING DAN TEKNIK-TEKNIK PEMBELAJARANNYA
In higher education, writing is one of the learning requirements for the students to be succesful in their study. Almost all of the assignments and also the tests demand them to write logically and systematically. Those include authentic and scientific writing. This requires the students to master some microskills and produce good writing. Since making the students to be good writers is not easy, the teacher, especially for the writing class should create a conducive classroom by designing or applying several appropriate learning methods based on the principles of designing a good writing classroom. It can be expected that such a class will create creative and critical students, especially in writing.
I. PENDAHULUAN
Mengapa pembelajaran writing (menulis) di perguruan tinggi dianggap perlu? Di perguruan tinggi, menulis merupakan ‘a way of life’. Ini dapat dimaknai bahwa sebagian besar aktivitas mahasiswa, baik berupa tugas-tugas harian dari dosen, ujian semester, maupun pengisian kelengkapan administrasi, membutuhkan keterampilan menulis. Tanpa kemampuan yang memadai dalam menulis, mahasiswa akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik, bahkan mungkin tidak akan dapat menyelesaikan studinya.
Kecenderungan dalam pembelajaran writing (menulis) pada pembelajaran bahasa Inggris atau bahasa-bahasa asing lainnya serupa dengan pembelajaran keterampilan-keterampilan yang lain, khususnya listening (menyimak) dan speaking (berbicara). Pembelajaran komunikatif saat ini mengharuskan dosen memahami bagaimana mengajarkan fluency (kelancaran), bukan hanya accuracy (akurasi), bagaimana menggunakan teks otentik dan konteks dalam ruang kelas, bagaimana memfokuskan pada tujuan-tujuan komunikasi linguistik, dan bagaimana meningkatkan motivasi mahasiswa.
Pada kegiatan pembelajaran writing di kelas, dosen lebih berperan sebagai fasilitator dan responder terhadap tulisan mahasiswa. Sebagai fasilitator, dosen memberikan bimbingan untuk membantu mahasiswa terlibat dalam pengembangan pemikiran dan pemunculan ide-ide dalam proses menulis, tetapi tidak diperbolehkan memaksakan ide-idenya ke dalam tulisan mahasiswa. Peran dosen lebih kepada memberikan umpan balik dalam bentuk koreksi atau komentar.
Meskipun demikian, menurut Chandrasegaran intervensi dapat dilakukan oleh dosen pada proses kegiatan menulis mahasiswa dengan tujuan:
a. Untuk pembuatan keputusan yang lebih efektif
Dosen boleh melakukan intervensi dengan cara membantu mahasiswa mengevaluasi pilihan-pilihan yang telah mereka buat terkait dengan makna (ide-ide) dan bahasa (kata-kata dan kaidah bahasa). Dosen dapat memberikan bantuan untuk memudahkan mahasiswa memperbaiki teks sebelum dikumpulkan untuk dinilai. Intervensi terjadi ketika mahasiswa sudah menulis sebagian dari teks yang diminta, atau telah melengkapi sebagian tahapan pada planning, writing, atau revising.
b. Mahasiswa dapat lebih memahami apa yang diharapkan oleh pembaca
Sebuah tulisan dikatakan berhasil jika pembaca yang menjadi sasaran menganggapnya demikian, yang berarti bahwa teks tersebut “benar” sesuai tujuannya. Oleh karena itu, dosen dapat membantu mahasiswa dalam memahami apa yang diinginkan oleh pembaca yang menjadi sasaran sebuah tulisan.
II. MICROSKILL PADA KETERAMPILAN WRITING
Untuk menguasai keterampilan menulis, mahasiswa harus memiliki sejumlah microskill yang sangat penting bagi seorang penulis yang efektif, yaitu:
a. Menghasilkan pola-pola tulisan tangan atau orthographic bahasa Inggris.
b. Menghasilkan tulisan dengan tingkat kecepatan yang efisien sesuai dengan tujuan.
c. Menghasilkan rangkaian kata yang dapat dipahami dan menggunakan pola urutan kata yang tepat.
d. Menggunakan sistem gramatikal yang dapat diterima (misal tense, agreement, pluralization, pattern, dan rule).
e. Mengungkapkan makna khusus pada berbagai bentuk gramatikal.
f. Menggunakan tanda-tanda kohesif pada wacana tertulis.
g. Menggunakan bentuk dan peraturan retoris untuk wacana tertulis.
h. Mencapai fungsi-fungsi komunikatif teks tertulis secara tepat sesuai dengan bentuk dan tujuan.
i. Menghubungkan berbagai peristiwa dan mengkomunikasikan hubungan-hubungan ini sebagai ide utama, ide penunjang, informasi baru, informasi yang telah ada, generalisasi, dan pemberian contoh.
j. Membedakan antara makna eksplisit dan implisit ketika menulis.
k. Menyampaikan referensi spesifik dalam konteks teks tertulis secara benar.
l. Mengembangkan dan menggunakan serangkaian strategi menulis, seperti menilai interpretasi pembaca secara tepat, menggunakan prosedur-prosedur pre-writing, menulis dengan lancar pada draft pertama, menggunakan parafrase dan sinonim, meminta umpan balik dari dosen dan teman, dan menggunakan umpan balik untuk revisi dan editing.
III. PERFORMA WRITING
Dalam proses pembelajaran menulis, ada beberapa kategori kegiatan menulis yang bisa dijadikan tugas ketika melakukan aktivitas di dalam ruang kelas yang dikemukakan oleh Brown.
a. Menyalin (imitative writing)
Pada tingkatan permulaan menulis, mahasiswa hanya akan “menyalin” huruf-huruf, kata-kata, dan mungkin kalimat ketika mempelajari aturan-aturan kode ortografis. Beberapa bentuk dikte masuk dalam kategori ini, walaupun dikte juga dapat diajarkan pada proses menulis yang lebih tinggi. Dikte biasanya melibatkan langkah-langkah berikut:
- Dosen membaca sebuah paragraf pendek satu atau dua kali dengan kecepatan normal.
- Dosen membaca paragraf frasa demi frasa dengan masing-masing tiga atau empat kata, dan tiap frasa diikuti dengan jeda.
- Selama jeda, mahasiswa menuliskan apa yang mereka dengar.
- Dosen kemudian membaca seluruh paragraf sekali lagi dengan kecepatan normal sehingga mahasiswa dapat mengecek tulisan mereka.
- Menyekor tulisan mahasiswa dapat menggunakan sejumlah kriteria untuk memberikan poin. Biasanya kesalahan ejaan dan tanda baca tidak digolongkan pada kesalahan gramatikal.
b. Intensif atau terkontrol (Intensive/Controlled Writing)
Menulis kadang kala digunakan sebagai sebuah cara untuk mempelajari, memperkuat, atau menguji konsep-konsep gramatikal. Menulis intensif dapat dilakukan melalui latihan-latihan grammar tertulis dan terkontrol. Jenis writing ini tidak menuntut banyak kreatifitas dari penulis. Bentuk umum writing terkontrol adalah memberikan paragraf kepada mahasiswa di mana mereka harus mengubah seluruh struktur kalimat pada paragraf tersebut; misalnya mengubah dari present tense menjadi past tense. Menulis terbimbing (guided writing) melonggarkan kontrol dosen tetapi tetap memberikan serangkaian stimulus. Sebagai contoh, dosen dapat menyuruh mahasiswa menuliskan sebuah cerita dengan rangkaian pertanyaan dari dosen: Where does the story take place? Describe the principal character. What does he say to the woman in the car?
Salah satu bentuk menulis terbimbing lainnya adalah dicto-comp. Paragraf dibacakan dengan kecepatan normal, biasanya dua atau tiga kali; kemudian dosen meminta mahasiswa untuk menuliskan kembali paragraf. Kadang kala dosen menuliskan sejumlah kata kunci secara berurutan guna membantu mahasiswa.
c. Menulis mandiri (Self-Writing)
Proporsi tugas menulis di kelas yang paling banyak mungkin pada self-writing, atau menulis hanya dengan diri sendiri sebagai audiens. Contoh paling nyata dari bentuk ini adalah mencatat materi perkuliahan yang disampaikan oleh dosen. Diary (catatan harian) atau tulisan jurnal juga termasuk kategori ini. Pada jurnal, mahasiswa mencatat pikiran, perasaan, dan reaksi, dan dosen memberikan respon berupa komentar tentang tulisan mereka.
d. Tulisan ilmiah (Display Writing)
Bagi semua mahasiswa yang belajar bahasa Inggris, latihan-latihan tanya jawab, ujian essay, dan laporan penelitian akan melibatkan elemen display. Kaitannya dengan bidang akademik, salah satu keterampilan akademik yang harus mereka kuasai adalah serangkaian teknik menulis display.
e. Tulisan otentik (Real Writing)
Jenis tulisan ini bertujuan untuk betul-betul mengkomunikasikan pesan yang diinginkan kepada pembaca. Ada tiga kategori:
1. Akademis. Kelompok-kelompok mahasiswa di kelas pada umumnya saling bertukar informasi dalam bentuk tertulis. Tugas-tugas kelompok, khususnya yang terkait dengan isu-isu dan topik saat ini, bisa jadi memiliki komponen writing di mana informasi betul-betul dicari dan disampaikan. Kegiatan yang lain adalah peer-editing.
2. Kejuruan/teknis. Membuat tulisan harus juga dilakukan oleh orang-orang yang belajar bahasa Inggris karena tuntutan pekerjaan. Tulisan-tulisan tersebut biasanya dalam bentuk surat, pengisian blangko, atau pembuatan prosedur-prosedur pengoperasian suatu alat.
3. Personal. Tulisan jenis ini meliputi diary (catatan harian), surat, kartu pos, catatan, pesan pribadi, dan tulisan-tulisan informal lain.
IV. PRINSIP-PRINSIP MENDESAIN TEKNIK WRITING
Tidak ada suatu kegiatan yang bisa terlaksana dengan baik bila tidak direncanakan dan didesain dengan baik. Demikian pula kegiatan pembelajaran. Hasil lebih maksimal akan mungkin dicapai bila kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan didesain dengan baik. Untuk itu, perlu bagi seorang guru atau dosen untuk mengacu kepada prinsip-prinsip tertentu ketika mendesain kegiatan pembelajaran di kelas. Di kelas writing, ada sejumlah prinsip yang dikemukakan oleh Brown yang dapat dijadikan landasan dalam mendesain teknik writing, meliputi:
1. Terapkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh penulis yang “baik”
Saat menggunakan sebuah teknik writing, pertimbangkan beberapa hal yang dilakukan penulis yang efektif, misalnya:
- fokuskan pada tujuan atau ide utama dalam menulis
- secara cerdas berupaya mengukur audiens mereka
- memanfaatkan waktu (tetapi tidak terlalu lama) untuk perencanaan menulis
- membiarkan ide-ide pertama mereka mengalir di kertas
- mengikuti rencana umum pengorganisasian ketika menulis
- mencari dan menggunakan umpan balik pada tulisan mereka
- tidak terikat pada struktur permukaan tertentu
- merevisi hasil tulisan mereka dengan sungguh-sungguh dan efisien
- melakukan revisi sesuai dengan yang dibutuhkan
2. Keseimbangan proses dan produk
Karena menulis adalah proses mengarang dan biasanya membutuhkan beberapa draft sebelum dihasilkan sebuah produk tulisan yang efektif, pastikan bahwa mahasiswa secara seksama melalui tahap-tahap yang tepat pada proses mengarang. Tahap ini meliputi perhatian pada peran anda sebagai pembimbing dan sebagai perespon. Pada saat yang bersamaan, jangan terlalu terpaku pada pada tahap-tahap menuju hasil akhir yang menyebabkan anda mengabaikan pencapaian akhir: sebuah tulisan yang jelas, kritis, tersusun baik, dan efektif. Pastikan mahasiswa mengetahui bahwa apapun proses yang dilalui menuju hasil akhir ini merupakan upaya yang berharga.
3. Mempertimbangkan latar belakang kultural/sastra
Pastikan bahwa teknik-teknik yang digunakan tidak menganggap bahwa mahasiswa tahu aturan-aturan retoris bahasa Inggris. Jika ada, sejumlah pertentangan nyata antara tradisi asal mahasiswa dengan apa yang akan anda ajarkan, cobalah untuk membantu mahasiswa memahami pertentangan tersebut dan secara perlahan membawa mereka pada penggunaan retoris bahasa Inggris yang dapat diterima.
4. Hubungkan antara kegiatan membaca dengan menulis
Jelas bahwa mahasiswa belajar menulis sebagian dengan cara mengamati apa yang sudah tertulis. Jadi, mereka belajar dengan mengamati atau membawa kata-kata yang tertulis. Dengan membaca dan mempelajari berbagai tipe teks yang relevan, mahasiswa dapat memperoleh wawasan pengetahuan yang penting tentang bagaimana mereka harus menulis dan tentang subjek yang mungkin akan menjadi topik tulisan mereka.
5. Memberikan sebanyak mungkin tulisan otentik
Apakah tulisan berupa real writing atau untuk display, tulisan tersebut tetap otentik jika tujuannya jelas bagi mahasiswa, audiensnya jelas, dan ada maksud untuk menyampaikan makna. Mengerjakan tugas writing bersama-sama dengan mahasiswa lain di kelas merupakan salah satu cara untuk menambah keotentikan. Membuat laporan kelas, menulis surat untuk orang-orang di luar kelas, menulis naskah untuk presentasi drama, menulis resume, menulis iklan – semuanya dapat dianggap sebagai menulis otentik.
6. Susunlah teknik menulis anda dengan urutan tahap pre-writing, drafting, dan revising
Pendekatan menulis proses cenderung dilakukan dalam tiga tahap menulis. Tahap pre-writing mendorong munculnya ide-ide dalam berbagai cara:
- membaca sebuah wacana
- skimming (membaca cepat) dan/atau scanning (membaca detil)
- melakukan penelitian
- brainstorming (tukar pendapat)
- membuat daftar secara individu
- mengelompokkan (dimulai dengan kata kunci, kemudian tambahkan kata-kata lain dengan menggunakan hubungan bebas)
- membahas sebuah topik atau pertanyaan
- pertanyaan-pertanyaan dan tes dari dosen
- menulis bebas
Tahap drafting dan revising merupakan inti dari proses menulis. Pada pendekatan tradisional dalam pembelajaran writing, mahasiswa diberi tugas mengarang di kelas untuk menulis dari awal hingga selesai selama perkuliahan berlangsung atau diberi tugas rumah. Aktivitas/cara tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk fokus pada tahap drafting. Pada pendekatan proses, drafting dipandang sebagai rangkaian strategi yang penting dan kompleks, menguasainya membutuhkan waktu, kesabaran, dan dosen yang terlatih.
Beberapa strategi dan keterampilan yang dapat diterapkan pada proses drafting/revising dalam menulis:
- proses memulai (adaptasi dari teknik mengarang bebas)
- monitoring yang “optimal” terhadap tulisan seseorang (tanpa editing yang prematur dan mengabaikan pemilihan kata, tata bahasa, dan lain-lain)
- review dari rekan mahasiswa untuk isi tulisan (memanfaatkan komentar rekan-rekan sekelas)
- memanfaatkan feedback dari dosen
- editing terhadap kekeliruan gramatikal
- teknik “read aloud” (membaca keras) (dalam kelompok kecil atau berpasangan, mahasiswa membacakan draft mereka yang hampir selesai kepada teman-teman mereka untuk pemeriksaan akhir terhadap kesalahan, runtutan ide, dan lain-lain)
- proofreading (membaca kritis)
7. Berupaya menawarkan teknik-teknik yang seinteraktif mungkin
Tidak diragukan lagi bahwa pendekatan proses terhadap pembelajaran writing sangatlah interaktif (karena mahasiswa bekerja berpasangan dan berkelompok untuk menghasilkan ide-ide dan untuk melakukan kegiatan editing dengan rekannya), serta learner-centered (terpusat pada mahasiswa) (dengan kesempatan yang luas bagi mahasiswa untuk memulai aktivitas dan bertukar pikiran). Teknik-teknik writing yang memfokuskan pada tujuan-tujuan lain selain karangan (seperti surat, formulir, memo, petunjuk, laporan singkat) juga merupakan kegiatan-kegiatan yang harus mengacu pada prinsip-prinsip kegiatan kelas yang interaktif. Kolaborasi kelompok, tukar pikiran, dan mengkritik merupakan bagian dari teknik-teknik yang memfokuskan pada writing.
8. Secara peka menerapkan metode merespon dan mengoreksi tulisan mahasiswa anda
Koreksi kesalahan dalam writing harus dilakukan dengan cara yang berbeda. Karena writing, tidak seperti speaking, seringkali meliputi tahap perencanaan yang panjang, koreksi terhadap kesalahan yang dimulai pada tahap drafting dan revising, yang merupakan waktu yang paling tepat untuk mengoreksi dibandingkan dengan pada tahap-tahap menulis yang lain. Ketika mahasiswa menerima respon terhadap hasil tulisan mereka, kesalahan – yang hanya merupakan salah satu aspek untuk direspon – jarang diperbaiki oleh dosen; sebaliknya, kesalahan-kesalahan tersebut diperbaiki melalui self-correction (koreksi sendiri), peer-correction (koreksi oleh rekan), dan komentar-komentar oleh dosen.
Sejalan dengan hal ini, Mc Crimmon juga mengemukakan beberapa tahapan dalam menulis:
- Pre-writing
Pada aktivitas pre-writing, sebelum mulai memunculkan ide-idenya dalam bentuk sebuah tulisan di atas selembar kertas, seorang penulis harus mempertimbangkan hal-hal berikut: Apakah tujuan tulisan ini dibuat? Untuk siapa tulisan ini ditujukan?
Ketika hal ini dikembangkan menjadi tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh pembelajar ketika mempersiapkan tulisannya, relevansi tugas tersebut dapat diperluas, misalkan sebagai berikut: berpikir mengenai isi, berpikir mengenai pembaca, dan persiapan yang sistematis untuk menulis.
- Composing and drafting
Selama mengarang, seorang penulis merangkai kalimat-kalimat menjadi sebuah tulisan yang paling sesuai dengan apa yang ingin mereka sampaikan kepada pembaca mereka. Mengarang hanyalah salah satu bagian dari suatu rangkaian, dan momen ketika pertama kalinya pena penulis menyentuh kertas.
- Revising and editing
Tahap revisi atau perbaikan menyatu dengan proses menulis dan sangat berbeda dengan apa yang sering terjadi pada konsep awal tulisan seorang pembelajar. Pada kenyataannya, sebuah tulisan yang panjang bisa saja mengalami beberapa kali revisi sebelum benar-benar menjadi sebuah tulisan yang siap disajikan kepada pembaca.
V. KESIMPULAN
Menulis merupakan aktivitas psikologis seorang pengguna bahasa untuk menampilkan informasi dalam bentuk tertulis yang di dalamnya terkandung topik tertentu yang ingin disampaikan kepada pembaca. Untuk menyelesaikan sebuah tulisan, baik dalam bahasa penutur maupun bahasa asing, seorang pembelajar harus melaksanakan beberapa tahapan yang secara umum terdiri atas perencanaan (planning atau pre-writing), pembuatan konsep dan tulisan (drafting), dan perbaikan (revising). Sejumlah teknik dan strategi dapat diterapkan oleh guru atau dosen di ruang kelas untuk membelajarkan keterampilan menulis sehingga pembelajar dapat menghasilkan tulisan yang menarik dan berkualitas. Penerapan teknik atau strategi tertentu semestinya disesuaikan dengan karakteristik pembelajar, kebutuhannya, dan tujuan dari pembelajaran. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta kelas writing yang kondusif guna memunculkan performa writing pembelajar secara maksimal.
REFERENSI
Chandrasegaran, Antonia, 2002, Intervening to Help in the Writing Process, Singapore: Publications Department SEAMEO Regional Language Centre.
Brown, Douglas, Teaching by Principles, 2001, San Francisco: San Francisco State University.
Ellis, Carol Ann & Reed, Cheryl, 2003, New Directions for Writers Volume 1: College Writing and Beyond, New York: Addison Wesley Longman.
Mc Crimmon, 1983, Writing with Purpose, New York: Houghton Miffin.
Rosenberg, Vivian M., 1989, Reading, Writing, Thinking, New York: Random House.
I. PENDAHULUAN
Mengapa pembelajaran writing (menulis) di perguruan tinggi dianggap perlu? Di perguruan tinggi, menulis merupakan ‘a way of life’. Ini dapat dimaknai bahwa sebagian besar aktivitas mahasiswa, baik berupa tugas-tugas harian dari dosen, ujian semester, maupun pengisian kelengkapan administrasi, membutuhkan keterampilan menulis. Tanpa kemampuan yang memadai dalam menulis, mahasiswa akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik, bahkan mungkin tidak akan dapat menyelesaikan studinya.
Kecenderungan dalam pembelajaran writing (menulis) pada pembelajaran bahasa Inggris atau bahasa-bahasa asing lainnya serupa dengan pembelajaran keterampilan-keterampilan yang lain, khususnya listening (menyimak) dan speaking (berbicara). Pembelajaran komunikatif saat ini mengharuskan dosen memahami bagaimana mengajarkan fluency (kelancaran), bukan hanya accuracy (akurasi), bagaimana menggunakan teks otentik dan konteks dalam ruang kelas, bagaimana memfokuskan pada tujuan-tujuan komunikasi linguistik, dan bagaimana meningkatkan motivasi mahasiswa.
Pada kegiatan pembelajaran writing di kelas, dosen lebih berperan sebagai fasilitator dan responder terhadap tulisan mahasiswa. Sebagai fasilitator, dosen memberikan bimbingan untuk membantu mahasiswa terlibat dalam pengembangan pemikiran dan pemunculan ide-ide dalam proses menulis, tetapi tidak diperbolehkan memaksakan ide-idenya ke dalam tulisan mahasiswa. Peran dosen lebih kepada memberikan umpan balik dalam bentuk koreksi atau komentar.
Meskipun demikian, menurut Chandrasegaran intervensi dapat dilakukan oleh dosen pada proses kegiatan menulis mahasiswa dengan tujuan:
a. Untuk pembuatan keputusan yang lebih efektif
Dosen boleh melakukan intervensi dengan cara membantu mahasiswa mengevaluasi pilihan-pilihan yang telah mereka buat terkait dengan makna (ide-ide) dan bahasa (kata-kata dan kaidah bahasa). Dosen dapat memberikan bantuan untuk memudahkan mahasiswa memperbaiki teks sebelum dikumpulkan untuk dinilai. Intervensi terjadi ketika mahasiswa sudah menulis sebagian dari teks yang diminta, atau telah melengkapi sebagian tahapan pada planning, writing, atau revising.
b. Mahasiswa dapat lebih memahami apa yang diharapkan oleh pembaca
Sebuah tulisan dikatakan berhasil jika pembaca yang menjadi sasaran menganggapnya demikian, yang berarti bahwa teks tersebut “benar” sesuai tujuannya. Oleh karena itu, dosen dapat membantu mahasiswa dalam memahami apa yang diinginkan oleh pembaca yang menjadi sasaran sebuah tulisan.
II. MICROSKILL PADA KETERAMPILAN WRITING
Untuk menguasai keterampilan menulis, mahasiswa harus memiliki sejumlah microskill yang sangat penting bagi seorang penulis yang efektif, yaitu:
a. Menghasilkan pola-pola tulisan tangan atau orthographic bahasa Inggris.
b. Menghasilkan tulisan dengan tingkat kecepatan yang efisien sesuai dengan tujuan.
c. Menghasilkan rangkaian kata yang dapat dipahami dan menggunakan pola urutan kata yang tepat.
d. Menggunakan sistem gramatikal yang dapat diterima (misal tense, agreement, pluralization, pattern, dan rule).
e. Mengungkapkan makna khusus pada berbagai bentuk gramatikal.
f. Menggunakan tanda-tanda kohesif pada wacana tertulis.
g. Menggunakan bentuk dan peraturan retoris untuk wacana tertulis.
h. Mencapai fungsi-fungsi komunikatif teks tertulis secara tepat sesuai dengan bentuk dan tujuan.
i. Menghubungkan berbagai peristiwa dan mengkomunikasikan hubungan-hubungan ini sebagai ide utama, ide penunjang, informasi baru, informasi yang telah ada, generalisasi, dan pemberian contoh.
j. Membedakan antara makna eksplisit dan implisit ketika menulis.
k. Menyampaikan referensi spesifik dalam konteks teks tertulis secara benar.
l. Mengembangkan dan menggunakan serangkaian strategi menulis, seperti menilai interpretasi pembaca secara tepat, menggunakan prosedur-prosedur pre-writing, menulis dengan lancar pada draft pertama, menggunakan parafrase dan sinonim, meminta umpan balik dari dosen dan teman, dan menggunakan umpan balik untuk revisi dan editing.
III. PERFORMA WRITING
Dalam proses pembelajaran menulis, ada beberapa kategori kegiatan menulis yang bisa dijadikan tugas ketika melakukan aktivitas di dalam ruang kelas yang dikemukakan oleh Brown.
a. Menyalin (imitative writing)
Pada tingkatan permulaan menulis, mahasiswa hanya akan “menyalin” huruf-huruf, kata-kata, dan mungkin kalimat ketika mempelajari aturan-aturan kode ortografis. Beberapa bentuk dikte masuk dalam kategori ini, walaupun dikte juga dapat diajarkan pada proses menulis yang lebih tinggi. Dikte biasanya melibatkan langkah-langkah berikut:
- Dosen membaca sebuah paragraf pendek satu atau dua kali dengan kecepatan normal.
- Dosen membaca paragraf frasa demi frasa dengan masing-masing tiga atau empat kata, dan tiap frasa diikuti dengan jeda.
- Selama jeda, mahasiswa menuliskan apa yang mereka dengar.
- Dosen kemudian membaca seluruh paragraf sekali lagi dengan kecepatan normal sehingga mahasiswa dapat mengecek tulisan mereka.
- Menyekor tulisan mahasiswa dapat menggunakan sejumlah kriteria untuk memberikan poin. Biasanya kesalahan ejaan dan tanda baca tidak digolongkan pada kesalahan gramatikal.
b. Intensif atau terkontrol (Intensive/Controlled Writing)
Menulis kadang kala digunakan sebagai sebuah cara untuk mempelajari, memperkuat, atau menguji konsep-konsep gramatikal. Menulis intensif dapat dilakukan melalui latihan-latihan grammar tertulis dan terkontrol. Jenis writing ini tidak menuntut banyak kreatifitas dari penulis. Bentuk umum writing terkontrol adalah memberikan paragraf kepada mahasiswa di mana mereka harus mengubah seluruh struktur kalimat pada paragraf tersebut; misalnya mengubah dari present tense menjadi past tense. Menulis terbimbing (guided writing) melonggarkan kontrol dosen tetapi tetap memberikan serangkaian stimulus. Sebagai contoh, dosen dapat menyuruh mahasiswa menuliskan sebuah cerita dengan rangkaian pertanyaan dari dosen: Where does the story take place? Describe the principal character. What does he say to the woman in the car?
Salah satu bentuk menulis terbimbing lainnya adalah dicto-comp. Paragraf dibacakan dengan kecepatan normal, biasanya dua atau tiga kali; kemudian dosen meminta mahasiswa untuk menuliskan kembali paragraf. Kadang kala dosen menuliskan sejumlah kata kunci secara berurutan guna membantu mahasiswa.
c. Menulis mandiri (Self-Writing)
Proporsi tugas menulis di kelas yang paling banyak mungkin pada self-writing, atau menulis hanya dengan diri sendiri sebagai audiens. Contoh paling nyata dari bentuk ini adalah mencatat materi perkuliahan yang disampaikan oleh dosen. Diary (catatan harian) atau tulisan jurnal juga termasuk kategori ini. Pada jurnal, mahasiswa mencatat pikiran, perasaan, dan reaksi, dan dosen memberikan respon berupa komentar tentang tulisan mereka.
d. Tulisan ilmiah (Display Writing)
Bagi semua mahasiswa yang belajar bahasa Inggris, latihan-latihan tanya jawab, ujian essay, dan laporan penelitian akan melibatkan elemen display. Kaitannya dengan bidang akademik, salah satu keterampilan akademik yang harus mereka kuasai adalah serangkaian teknik menulis display.
e. Tulisan otentik (Real Writing)
Jenis tulisan ini bertujuan untuk betul-betul mengkomunikasikan pesan yang diinginkan kepada pembaca. Ada tiga kategori:
1. Akademis. Kelompok-kelompok mahasiswa di kelas pada umumnya saling bertukar informasi dalam bentuk tertulis. Tugas-tugas kelompok, khususnya yang terkait dengan isu-isu dan topik saat ini, bisa jadi memiliki komponen writing di mana informasi betul-betul dicari dan disampaikan. Kegiatan yang lain adalah peer-editing.
2. Kejuruan/teknis. Membuat tulisan harus juga dilakukan oleh orang-orang yang belajar bahasa Inggris karena tuntutan pekerjaan. Tulisan-tulisan tersebut biasanya dalam bentuk surat, pengisian blangko, atau pembuatan prosedur-prosedur pengoperasian suatu alat.
3. Personal. Tulisan jenis ini meliputi diary (catatan harian), surat, kartu pos, catatan, pesan pribadi, dan tulisan-tulisan informal lain.
IV. PRINSIP-PRINSIP MENDESAIN TEKNIK WRITING
Tidak ada suatu kegiatan yang bisa terlaksana dengan baik bila tidak direncanakan dan didesain dengan baik. Demikian pula kegiatan pembelajaran. Hasil lebih maksimal akan mungkin dicapai bila kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan didesain dengan baik. Untuk itu, perlu bagi seorang guru atau dosen untuk mengacu kepada prinsip-prinsip tertentu ketika mendesain kegiatan pembelajaran di kelas. Di kelas writing, ada sejumlah prinsip yang dikemukakan oleh Brown yang dapat dijadikan landasan dalam mendesain teknik writing, meliputi:
1. Terapkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh penulis yang “baik”
Saat menggunakan sebuah teknik writing, pertimbangkan beberapa hal yang dilakukan penulis yang efektif, misalnya:
- fokuskan pada tujuan atau ide utama dalam menulis
- secara cerdas berupaya mengukur audiens mereka
- memanfaatkan waktu (tetapi tidak terlalu lama) untuk perencanaan menulis
- membiarkan ide-ide pertama mereka mengalir di kertas
- mengikuti rencana umum pengorganisasian ketika menulis
- mencari dan menggunakan umpan balik pada tulisan mereka
- tidak terikat pada struktur permukaan tertentu
- merevisi hasil tulisan mereka dengan sungguh-sungguh dan efisien
- melakukan revisi sesuai dengan yang dibutuhkan
2. Keseimbangan proses dan produk
Karena menulis adalah proses mengarang dan biasanya membutuhkan beberapa draft sebelum dihasilkan sebuah produk tulisan yang efektif, pastikan bahwa mahasiswa secara seksama melalui tahap-tahap yang tepat pada proses mengarang. Tahap ini meliputi perhatian pada peran anda sebagai pembimbing dan sebagai perespon. Pada saat yang bersamaan, jangan terlalu terpaku pada pada tahap-tahap menuju hasil akhir yang menyebabkan anda mengabaikan pencapaian akhir: sebuah tulisan yang jelas, kritis, tersusun baik, dan efektif. Pastikan mahasiswa mengetahui bahwa apapun proses yang dilalui menuju hasil akhir ini merupakan upaya yang berharga.
3. Mempertimbangkan latar belakang kultural/sastra
Pastikan bahwa teknik-teknik yang digunakan tidak menganggap bahwa mahasiswa tahu aturan-aturan retoris bahasa Inggris. Jika ada, sejumlah pertentangan nyata antara tradisi asal mahasiswa dengan apa yang akan anda ajarkan, cobalah untuk membantu mahasiswa memahami pertentangan tersebut dan secara perlahan membawa mereka pada penggunaan retoris bahasa Inggris yang dapat diterima.
4. Hubungkan antara kegiatan membaca dengan menulis
Jelas bahwa mahasiswa belajar menulis sebagian dengan cara mengamati apa yang sudah tertulis. Jadi, mereka belajar dengan mengamati atau membawa kata-kata yang tertulis. Dengan membaca dan mempelajari berbagai tipe teks yang relevan, mahasiswa dapat memperoleh wawasan pengetahuan yang penting tentang bagaimana mereka harus menulis dan tentang subjek yang mungkin akan menjadi topik tulisan mereka.
5. Memberikan sebanyak mungkin tulisan otentik
Apakah tulisan berupa real writing atau untuk display, tulisan tersebut tetap otentik jika tujuannya jelas bagi mahasiswa, audiensnya jelas, dan ada maksud untuk menyampaikan makna. Mengerjakan tugas writing bersama-sama dengan mahasiswa lain di kelas merupakan salah satu cara untuk menambah keotentikan. Membuat laporan kelas, menulis surat untuk orang-orang di luar kelas, menulis naskah untuk presentasi drama, menulis resume, menulis iklan – semuanya dapat dianggap sebagai menulis otentik.
6. Susunlah teknik menulis anda dengan urutan tahap pre-writing, drafting, dan revising
Pendekatan menulis proses cenderung dilakukan dalam tiga tahap menulis. Tahap pre-writing mendorong munculnya ide-ide dalam berbagai cara:
- membaca sebuah wacana
- skimming (membaca cepat) dan/atau scanning (membaca detil)
- melakukan penelitian
- brainstorming (tukar pendapat)
- membuat daftar secara individu
- mengelompokkan (dimulai dengan kata kunci, kemudian tambahkan kata-kata lain dengan menggunakan hubungan bebas)
- membahas sebuah topik atau pertanyaan
- pertanyaan-pertanyaan dan tes dari dosen
- menulis bebas
Tahap drafting dan revising merupakan inti dari proses menulis. Pada pendekatan tradisional dalam pembelajaran writing, mahasiswa diberi tugas mengarang di kelas untuk menulis dari awal hingga selesai selama perkuliahan berlangsung atau diberi tugas rumah. Aktivitas/cara tersebut tidak memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk fokus pada tahap drafting. Pada pendekatan proses, drafting dipandang sebagai rangkaian strategi yang penting dan kompleks, menguasainya membutuhkan waktu, kesabaran, dan dosen yang terlatih.
Beberapa strategi dan keterampilan yang dapat diterapkan pada proses drafting/revising dalam menulis:
- proses memulai (adaptasi dari teknik mengarang bebas)
- monitoring yang “optimal” terhadap tulisan seseorang (tanpa editing yang prematur dan mengabaikan pemilihan kata, tata bahasa, dan lain-lain)
- review dari rekan mahasiswa untuk isi tulisan (memanfaatkan komentar rekan-rekan sekelas)
- memanfaatkan feedback dari dosen
- editing terhadap kekeliruan gramatikal
- teknik “read aloud” (membaca keras) (dalam kelompok kecil atau berpasangan, mahasiswa membacakan draft mereka yang hampir selesai kepada teman-teman mereka untuk pemeriksaan akhir terhadap kesalahan, runtutan ide, dan lain-lain)
- proofreading (membaca kritis)
7. Berupaya menawarkan teknik-teknik yang seinteraktif mungkin
Tidak diragukan lagi bahwa pendekatan proses terhadap pembelajaran writing sangatlah interaktif (karena mahasiswa bekerja berpasangan dan berkelompok untuk menghasilkan ide-ide dan untuk melakukan kegiatan editing dengan rekannya), serta learner-centered (terpusat pada mahasiswa) (dengan kesempatan yang luas bagi mahasiswa untuk memulai aktivitas dan bertukar pikiran). Teknik-teknik writing yang memfokuskan pada tujuan-tujuan lain selain karangan (seperti surat, formulir, memo, petunjuk, laporan singkat) juga merupakan kegiatan-kegiatan yang harus mengacu pada prinsip-prinsip kegiatan kelas yang interaktif. Kolaborasi kelompok, tukar pikiran, dan mengkritik merupakan bagian dari teknik-teknik yang memfokuskan pada writing.
8. Secara peka menerapkan metode merespon dan mengoreksi tulisan mahasiswa anda
Koreksi kesalahan dalam writing harus dilakukan dengan cara yang berbeda. Karena writing, tidak seperti speaking, seringkali meliputi tahap perencanaan yang panjang, koreksi terhadap kesalahan yang dimulai pada tahap drafting dan revising, yang merupakan waktu yang paling tepat untuk mengoreksi dibandingkan dengan pada tahap-tahap menulis yang lain. Ketika mahasiswa menerima respon terhadap hasil tulisan mereka, kesalahan – yang hanya merupakan salah satu aspek untuk direspon – jarang diperbaiki oleh dosen; sebaliknya, kesalahan-kesalahan tersebut diperbaiki melalui self-correction (koreksi sendiri), peer-correction (koreksi oleh rekan), dan komentar-komentar oleh dosen.
Sejalan dengan hal ini, Mc Crimmon juga mengemukakan beberapa tahapan dalam menulis:
- Pre-writing
Pada aktivitas pre-writing, sebelum mulai memunculkan ide-idenya dalam bentuk sebuah tulisan di atas selembar kertas, seorang penulis harus mempertimbangkan hal-hal berikut: Apakah tujuan tulisan ini dibuat? Untuk siapa tulisan ini ditujukan?
Ketika hal ini dikembangkan menjadi tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh pembelajar ketika mempersiapkan tulisannya, relevansi tugas tersebut dapat diperluas, misalkan sebagai berikut: berpikir mengenai isi, berpikir mengenai pembaca, dan persiapan yang sistematis untuk menulis.
- Composing and drafting
Selama mengarang, seorang penulis merangkai kalimat-kalimat menjadi sebuah tulisan yang paling sesuai dengan apa yang ingin mereka sampaikan kepada pembaca mereka. Mengarang hanyalah salah satu bagian dari suatu rangkaian, dan momen ketika pertama kalinya pena penulis menyentuh kertas.
- Revising and editing
Tahap revisi atau perbaikan menyatu dengan proses menulis dan sangat berbeda dengan apa yang sering terjadi pada konsep awal tulisan seorang pembelajar. Pada kenyataannya, sebuah tulisan yang panjang bisa saja mengalami beberapa kali revisi sebelum benar-benar menjadi sebuah tulisan yang siap disajikan kepada pembaca.
V. KESIMPULAN
Menulis merupakan aktivitas psikologis seorang pengguna bahasa untuk menampilkan informasi dalam bentuk tertulis yang di dalamnya terkandung topik tertentu yang ingin disampaikan kepada pembaca. Untuk menyelesaikan sebuah tulisan, baik dalam bahasa penutur maupun bahasa asing, seorang pembelajar harus melaksanakan beberapa tahapan yang secara umum terdiri atas perencanaan (planning atau pre-writing), pembuatan konsep dan tulisan (drafting), dan perbaikan (revising). Sejumlah teknik dan strategi dapat diterapkan oleh guru atau dosen di ruang kelas untuk membelajarkan keterampilan menulis sehingga pembelajar dapat menghasilkan tulisan yang menarik dan berkualitas. Penerapan teknik atau strategi tertentu semestinya disesuaikan dengan karakteristik pembelajar, kebutuhannya, dan tujuan dari pembelajaran. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta kelas writing yang kondusif guna memunculkan performa writing pembelajar secara maksimal.
REFERENSI
Chandrasegaran, Antonia, 2002, Intervening to Help in the Writing Process, Singapore: Publications Department SEAMEO Regional Language Centre.
Brown, Douglas, Teaching by Principles, 2001, San Francisco: San Francisco State University.
Ellis, Carol Ann & Reed, Cheryl, 2003, New Directions for Writers Volume 1: College Writing and Beyond, New York: Addison Wesley Longman.
Mc Crimmon, 1983, Writing with Purpose, New York: Houghton Miffin.
Rosenberg, Vivian M., 1989, Reading, Writing, Thinking, New York: Random House.
Rabu, 26 Agustus 2009
Tahun ini prodi PBI kita menerima 8 kelas baru, sekitar 320 mahasiswa dari sekitar 600 pendaftar pada prodi ini. Di satu sisi, kami, para dosen, merasa bangga dengan capaian ini. Ini refleksi dari kenyataan bahwa prodi ini kian diminati. Tentu ini buah kerja keras dari semua pihak; namun di sisi lain, kami seperti kehilangan energi untuk bicara masalah kualitas. Merupakan kewajiban untuk membelajarkan mahasiswa menguasai keterampilan berbahasa Inggris, tetapi bagaimana mungkin dengan jumlah mahasiswa yang ‘over-quota’ dan jadwal mengajar yang ‘over-load’, belum lagi ditambah tugas-tugas lain sebagai dosen? Semoga ini menjadi tantangan untuk mengatur strategi dan melaksanakan pembelajaran yang cukup berkualitas… (whatever happens, welcome guys to this campus and learn many new things here!)
Langganan:
Postingan (Atom)