Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2012

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGERJAKAN TES TOEFL (TEST OF ENGLISH AS A FOREIGN LANGUAGE) MELALUI IMPLEMENTASI TEKNIK MIND MAP ( ExperimentaResearch pada Mahasiswa STAIN Jurai Siwo Metro)

This research is aimed at identifying what difficulties the students have in doing the TOEFL (Test of English as a Foreign Language) test; a standardized test to measure a person’s global English competence. To solve the problems, Mind Map technique, a process of mapping the mind to correlate the certain problems from the neuron cells forming the concept correlation into an understanding and the results is directly expressed in a piece of paper, with an animation that is easily understood by the maker, was implemented. Therefore, this research is also aimed at finding out whether the implementation of Mind Map technique can increase the students’ competence in doing the TOEFL test. This technique was applied on the basis of the single-group-design experiment, where the research was conducted in one group only. Drawn as one group pre-test + post-test: O1 X O2, this design tries to use the subjects as controls for themselves and omits the control group. This design is also called ‘repeated measures’ design because the subjects are measured two times at its dependent variable. The treatment was conducted 8 times, one pre-test and one post-test. The data was analyzed by using t-test to know the difference between the early and final ability. Based on the data analysis, it can be concluded that Mind Map technique can increase the subjects’ ability to do the TOEFL test so that their scores can also increase. The results of the analysis shows that the index of tobserved is -11,621 or tabsolute 11,621, higher than the index of ttable at df 30 and significance level of 5%, that is 2,042. Meanwhile, the difficulties the students have include the difficulties in matching the limited test time duration, identifying the pronunciation at listening section, mastering the grammar and vocabulary, as well as understanding the reading text content. The subjects also have positive perception toward the implementation of this technique to increase their ability in doing the test. They consider that Mind Map technique can help them do the test guided, systematically, and enjoyable. A. PENDAHULUAN Pada era global yang sedang dihadapi saat ini, kita diibaratkan sedang menjelajah dunia. Karena itu, kita perlu kembali melihat pentingnya keseluruhan pengetahuan tentang pembelajaran dan pengajaran bahasa asing. Dari sekian banyak bahasa yang ada di dunia ini, bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang paling banyak dipelajari di berbagai belahan dunia. Salah satu yang seringkali menjadi keluhan adalah kesulitan dalam mengerjakan tes TOEFL yang merupakan tes kecakapan bahasa Inggris global dan menjadi standar untuk melihat kemampuan seseorang dalam bahasa Inggris secara menyeluruh. Secara umum, tes TOEFL lebih berorientasi kepada American English, dan sedikit berbeda dengan jenis tes IELTS yang berorientasi kepada British English. Tidak seperti tes IELTS, tes TOEFL ini pada umumnya tidak mempunyai bagian individual interview test. Biasanya tes ini memakan waktu sekitar tiga jam dan diselenggarakan dalam 4 bagian, yaitu bagian listening comprehension (50 butir soal), grammar structure and written expression (40 butir soal), reading comprehension (50 butir soal), dan writing. Untuk dapat mengerjakan tes tersebut dengan baik dan mendapatkan skor tinggi, sesuai dengan alokasi waktunya, diperlukan teknik-teknik yang tepat. Salah satu alternatif yang dapat diaplikasikan adalah teknik Mind Map. Teknik ini memungkinkan adanya sistem penyimpanan, penarikan data, dan akses yang luar biasa untuk perpustakaan raksasa yang sebenarnya ada di dalam otak manusia yang menakjubkan. Dengan menggunakan teknik ini peserta dapat mengcover keseluruhan masalah pada butir-butir pada tes TOEFL yang sangat bervariasi dan memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi. Teknik ini dipilih karena dianggap dapat membantu untuk merencana, berkomunikasi, menjadi lebih kreatif, menghemat waktu, menyelesaikan masalah, memusatkan perhatian, menyusun dan menjelaskan pikiran-pikiran, mengingat dengan lebih baik, belajar lebih cepat dan efisien, dan melihat ‘gambar keseluruhan’. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Jurusan Tarbiyah STAIN Jurai Siwo Metro semester V kelas E, sejumlah 31 mahasiswa. Dibandingkan dengan kelas-kelas yang lain pada angkatan yang sama (angkatan 2008), kelas ini merupakan kelas yang lebih pasif dan kemampuan rata-rata mahasiswanya relatif kurang atau lebih rendah. Dengan demikian, jika data hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan, peneliti dapat menyimpulkan bahwa hal tersebut merupakan hasil dari implementasi teknik yang dimaksud dalam penelitian ini. Mencapai skor TOEFL yang tinggi seringkali menjadi masalah bagi sebagian besar orang, terutama mereka yang diwajibkan untuk mengikuti tes tersebut. Bagi mahasiswa STAIN Jurai Siwo Metro yang diwajibkan untuk memiliki skor TOEFL tertentu sebagai syarat mengikuti ujian skripsi, teknik yang tepat untuk setidaknya dapat mengerjakan tes TOEFL tersebut dengan baik tentu sangat diperlukan. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah “Apakah implementasi teknik Mind Map dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengerjakan tes TOEFL sehingga skornya juga dapat meningkat? Kesulitan-kesulitan apa sajakah yang dihadapi oleh mahasiswa dalam upayanya mengerjakan tes TOEFL?” Sejalan dengan permasalahan yang akan dikaji, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apasajakah kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa dalam mengerjakan tes TOEFL dan apakah implementasi teknik Mind Map dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengerjakan tes TOEFL. Penelitian ini merupakan ‘single-group design experimental research’, yaitu penelitian menggunakan desain eksperimen semu. Hanya satu kelas dengan 31 orang subjek yang digunakan sebagai ‘treatment group’ sekaligus ‘control group’. Data diambil dengan memberikan satu kali pre-test dan satu kali post-test. Sementara itu, treatment diberikan sebanyak 8 kali. Selanjutnya, data diolah dengan menggunakan formula t-test. B. KAJIAN TEORI 1. Pembelajaran Bahasa Inggris: Konsep dan Kompetensi yang Harus Dicapai Menurut Brown , ketika mempelajari bahasa Inggris, pembelajar dapat dikategorikan pada level beginning (pemula), intermediate (menengah), atau advanced (ahli). Secara singkat, kompetensi yang harus dicapai pada tingkat beginning untuk listening dan speaking skill adalah fungsi-fungsi komunikasi yang otentik dan bermakna. Fungsi-fungsi ini lebih dibatasi oleh grammar, vocabulary, dan length of utterance ketimbang fungsi komunikatifnya. Pada reading dan writing skill, materi lebih ditekankan pada teks-teks yang sederhana dan otentik. Teks iklan, formulir, dan resep merupakan materi yang harus dipelajari pada reading, sementara writing melibatkan formulir, daftar, catatan, dan surat singkat. Aspek-aspek grammar yang harus dikuasai meliputi simple verb, personal pronoun, definite and indefinite articles, singular and plural nouns, dan simple sentence. Pada level intermediate, kompetensi yang ingin dicapai pada listening-speaking skill adalah menghasilkan ucapan-ucapan yang baru, pembelajar dapat berpartisipasi pada percakapan pendek, bertanya dan menjawab pertanyaan, menemukan alternatif cara menyampaikan makna, dan menyerap informasi dari yang lain. Pada aspek reading dan writing, kompetensi yang harus dicapai semakin kompleks, yaitu dalam hal panjang teks, grammar, dan discourse. Pembelajar harus membaca paragraf, cerita pendek, dan mulai mengaplikasikan skimming dan scanning. Materi writing pun semakin kompleks. Untuk grammar, komponen yang harus dikuasai adalah progressive verb tenses dan clauses. Selanjutnya, pada level advanced, kompetensi listening dan speaking skill yang harus dicapai adalah pembelajar dapat fokus pada nuansa sosiolinguistik bahasa: register, style, interlocutor status, konteks percakapan, nominasi topik dan tujuan, dan perubahan topik. Pada aspek reading dan writing, keterampilan yang harus dikuasai semakin mendekati kompetensi ‘native speaker’, semisal critical reading, peran skema dalam menginterpretasi teks tertulis, dan menulis dokumen yang terkait dengan profesi seseorang (laporan lab, data-data hasil penelitian, dan sebagainya). Pada aspek grammar, yang ditekankan adalah bentuk-bentuk fungsional, fenomena sosiolinguistik dan pragmatis, serta kompetensi strategis. 2. Tes : Pengertian dan Jenis-jenisnya Cronbach dalam Mehrens dan Lehmann mendefinisikan tes sebagai suatu prosedur sistematis untuk mengetahui kemampuan seseorang dan menggambarkannya dengan bantuan skala numerik atau sistem kategori. Ada berbagai macam jenis tes, tiap tes memiliki tujuan khusus dan kriteria tertentu meliputi Proficiency Test (Tes Kecakapan), Diagnostic Test (Tes Diagnostik), Placement Test (Tes Penempatan), Achievement Test (Tes Prestasi), dan Aptitude Test (Tes Bakat/Ketangkasan). Pada masing-masing jenis tes, ada berbagai teknik dan prosedur yang berbeda. Rentangan teknik dan prosedur ini meliputi penyekoran objektif sampai subjektif, pilihan jawaban terbuka sampai terstruktur atau tertutup, format desain butir pilihan ganda sampai isian singkat, dan kemampuan tertulis sampai lisan. Tes masing-masing kemampuan dapat difokuskan pada rangkaian kesatuan unit linguistik, dari yang kecil sampai ke yang lebih besar: fonologi dan ortografi, kata, kalimat, dan diskurkus (wacana). Dalam menginterpretasi tes, sangatlah penting untuk mencatat mana unit linguistik yang sedang diteskan. Tes kemampuan lisan dapat berupa tes kelancaran percakapan atau pelafalan serangkaian fonologi tertentu, dan dapat juga berupa bentuk imitasi atau peniruan, respons terstruktur, atau respons bebas. Demikian pula, tes pemahaman listening (menyimak) dapat dikonsentrasikan pada aspek bahasa tertentu atau pada menyimak keseluruhan makna umum. Tes reading dapat mencakup serangkaian unit bahasa dan dapat ditujukan untuk menguji kemampuan memahami teks panjang atau pendek, kalimat tunggal, atau bahkan frasa dan kata. Tes writing dapat berupa tes bentuk terbuka dengan cakupan karangan bebas, ataupun terstruktur untuk menguji dari mulai ejaan yang benar sampai dengan kompetensi tingkat diskurkus. 3. Konsep Tes TOEFL (Test of English as a Foreign Language) Test of English as a Foreign Language disingkat TOEFL adalah tes bahasa Inggris yang dirancang untuk mengukur penguasaan bahasa Inggris bagi mereka yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris. Tes kemampuan berbahasa Inggris (logat Amerika) ini diperlukan untuk mendaftar masuk ke sekitar 2400 perguruan tinggi di Amerika Serikat, Kanada, dan 80 negara lain di dunia. Tes TOEFL ini pertama kali dikembangkan dan diselenggarakan oleh ETS (Educational Testing Service), sebuah lembaga nirlaba yang berkedudukan di Amerika Serikat untuk semua peserta tes di seluruh dunia. Tes ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1964. Terdapat dua jenis tes TOEFL, yaitu 1) Paper and Pencil Based TOEFL; dan 2) Computer Based TOEFL. Jenis tes TOEFL yang pertama adalah tes TOEFL yang selama ini dikenal, di mana jawaban dikerjakan dengan menggunakan kertas dan pensil. Sedangkan yang kedua merupakan model tes yang relatif baru karena baru pertama kali diperkenalkan pada tahun 1998. Tes ini menggunakan komputer dalam penyampaian soalnya dan peserta tes akan menjawab tes ini juga melalui komputer. Untuk keperluan pra-seleksi ataupun keperluan intern suatu lembaga, maka ETS selaku lembaga pengembang dan penyelenggara tes TOEFL juga menyelenggarakan TOEFL ITP(ITP = Institutional Testing Programme). Jumlah soal dan tingkat kesulitan TOEFL ITP tidak berbeda dengan Paper and Pencil Based TOEFL maupun Computer Based TOEFL, karena soal-soal yang digunakan pada TOEFL ITP adalah soal tes TOEFL yang pernah digunakan sebelumnya. Hanya saja, skor TOEFL ITP penggunaannya terbatas. Perguruan tinggi di Amerika misalnya, hanya akan menerima skor yang diperoleh dari Paper and Pencil Based TOEFL atau Computer Based TOEFL. Selain TOEFL ITP, juga ada TOEFL Prediction/Equivalent Test yang biasanya digunakan untuk memperkirakan skor TOEFL seseorang sebelum yang bersangkutan mengikuti tes TOEFL lainnya (Paper and Pencil Based TOEFL, Computer Based TOEFL, TOEFL ITP). Jenis tes TOEFL Prediction ini umumnya diselenggarakan oleh lembaga/pusat bahasa atau tempat-tempat yang menyelenggarakan pelatihan TOEFL. Sistem penilaian atau skor yang digunakan untuk Paper and Based TOEFL, TOEFL ITP, TOEFL Prediction Test dan Computer Based TOEFL memang berbeda. Rentang skor yang digunakan oleh Paper and Pencil Based TOEFL, TOEFL ITP, dan TOEFL Prediction Test adalah 310-677, sedangkan rentang skor Computer Based TOEFL adalah 0-300. Tingkat kesulitan soal untuk keseluruhan jenis tes adalah sama, sehingga dapat dikatakan mereka yang memperoleh skor 677 pada Paper and Pencil Based TOEFL diperkirakan akan memperoleh skor 300 pada Computer Based TOEFL, dan sebaliknya jika seorang peserta tes memperoleh skor 213 dalam Computer Based TOEFL maka skor yang bersangkutan pada Paper and Pencil Based TOEFL adalah 550. 4. Mind Map: Teknik Pembuatan, Aturan, dan Aplikasinya Berbicara tentang teknik, setiap proses pembelajaran membutuhkan teknik yang tepat sesuai dengan tujuan dan kompetensi yang ingin dicapai. Dalam mengerjakan tes TOEFL, kompetensi yang harus dimiliki adalah kompetensi bahasa Inggris secara global atau menyeluruh. Teknik yang dibutuhkan tentunya teknik yang dapat mengintegrasikan kemampuan pikiran untuk memecahkan berbagai masalah dalam pertanyaan tes TOEFL. Oleh karena itu, pada penelitian ini, alternatif teknik yang ditawarkan adalah teknik Mind Map. Apakah teknik Mind Map itu? Tony Buzan mengemukakan satu definisi tentang Mind Map: “A Mind Map is powerful graphic technique which provides a universal key to unlock the potential of the brain. It harnesses the full range of cortical skill-word, image, number, logic, rhythm, colour, and spatial awareness-in a single, uniquely powerful manner. In so doing, it gives you a freedom to roam the infinite expanses of your brain.” Dari definisi tersebut dapat diartikan bahwa Mind Map adalah cara mengembangkan pikiran ke segala arah, menangkap berbagai pikiran dalam berbagai sudut. Mind Map mengembangkan cara pikir divergen, berpikir kreatif. Mind Map adalah alat berpikir organisasional yang efektif dan cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi itu ketika dibutuhkan. 5. Aplikasi Teknik Mind Map pada Pengerjaan Tes TOEFL Secara keseluruhan, ada 43 jurus atau langkah yang diadaptasi dari teknik Mind Map untuk mengerjakan tes TOEFL. Langkah-langkah tersebut dipilah-pilah sesuai dengan bagian atau sesi yang biasanya harus dikerjakan pada tes TOEFL, meliputi Listening Comprehension, Structure and Written Expression, dan Reading Comprehension. Berdasarkan langkah-langkah yang sudah ditetapkan tersebut, subjek akan diminta membuat Mind Map sendiri karena teknik ini akan sangat efektif apabila pengguna membuatnya sendiri sesuai dengan kreativitas masing-masing, meskipun langkah-langkahnya sudah ditetapkan sebelumnya. Mind Map yang pertama kali harus dibuat adalah langkah-langkah umum mengerjakan tes TOEFL, selanjutnya diikuti dengan langkah-langkah untuk masing-masing sesi. Langkah-langkah pada sesi Listening Comprehension meliputi percakapan pendek yang terdiri dari temukan pengulangan, mencari lawan pernyataan, memperhatikan saran, tentukan lawan pasif dan aktif, perhatikan who dan where, dan perhatikan pernyataan persetujuan. Selanjutnya percakapan panjang yang terdiri dari antisipasi pertanyaan, perhatikan topik, dan perhatikan urutan percakapan. Yang terakhir adalah cerita panjang yang terdiri dari antisipasi pertanyaan, perhatikan topik, dan perhatikan urutan jalan cerita. Langkah-langkah pada sesi Reading meliputi cari ide utama, temukan detail yang sudah tertulis, temukan detail yang tidak dituliskan, ungkap pernyataan tersirat, cari padanan kata dengan menganalisis kalimat, dan temukan letak kata kunci atau ide. Langkah-langkah pada sesi Structure and Written Expression meliputi cari subjek dan kata kerja, perhatikan object of preposition, perhatikan present participle, perhatikan past participle, tentukan coordinate connectors, cari kata penghubung, kenali noun clause sebagai penghubung, kenali noun clause sebagai subjek, kenali adjective clause sebagai penghubung, kenali adjective clause sebagai subjek, perhatikan pernyataan sebagai prepositional phrases, perhatikan ekspresi jumlah, kenali kata yang bersifat singular, pahami struktur paralel dengan kata penghubung, pahami struktur paralel dengan sepasang kata penghubung, kenali past participle setelah kata have, kenali past participle dan present participle setelah kata Be, kata kerja 1 setelah Modals, perhatikan kata benda singular atau plural, perhatikan kata benda, tentukan kata ganti subjek dan objek, kenali possessive, referensi kata ganti, kata sifat dan kata keterangan, dan kata sifat setelah kata penghubung dari kata kerja. C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN a. Skor TOEFL Subjek Berdasarkan Hasil Pre-test dengan Tes TOEFL-Prediction Pre-test dilaksanakan sebelum pemberian treatment berupa implementasi teknik Mind Map kepada subjek. Pre-test dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2011. Berdasarkan hasil tes dapat dilihat bahwa sebagian besar subjek memperoleh skor di bawah kriteria minimum skor TOEFL mahasiswa PBI untuk dapat mengikuti munaqosyah, yaitu 450. Hanya 1 (3,226%) mahasiswa yang memperoleh skor di atas kriteria minimum, yaitu 473. Selebihnya, dari 31 mahasiswa peserta pre-test, sebanyak 30 (94,776%) mahasiswa memperoleh memperoleh skor di bawah kriteria skor minimum. Rerata skor pre-test adalah 340,516. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun subjek adalah mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), mereka ternyata masih mengalami kesulitan untuk memperoleh skor TOEFL-Prediction yang tinggi. b. Skor TOEFL Subjek Berdasarkan Hasil Post-test dengan Tes TOEFL-Prediction Setelah sebanyak 8 (delapan) kali treatment diberikan kepada subjek, maka post-test dilaksanakan untuk mengetahui skor TOEFL mereka setelah mendapat treatment. Berdasarkan skor tes dapat dilihat bahwa 4 orang subjek (12,903%) memperoleh skor di atas kriteria minimum 450. Sementara itu, sebanyak 27 orang subjek (87,097%) memperoleh skor di bawah kriteria minimum. Rerata skor post-test adalah 417,774, meningkat dari rerata skor pre-test yang sebesar 340,516. Meskipun demikian, sebagian besar subjek mengalami peningkatan skor yang cukup signifikan. c. Perbandingan Skor Pre-test dan Post-test Subjek Skor subjek pada pre-test dibandingkan dengan skor pada post-test dengan maksud untuk melihat peningkatan atau penurunan skor yang dicapai subjek.Berdasarkan distribusi skor dapat dilihat bahwa sebanyak 30 orang subjek (94,776%) mengalami peningkatan skor; hanya 1 orang subjek (3,226%) yang mengalami penurunan skor. Rerata peningkatan skor adalah 78,667. d. Hasil Kuesioner Subjek tentang Kesulitan-kesulitan dalam Mengerjakan Tes TOEFL dan Persepsi Subjek terhadap Teknik Mind Map Dari hasil kuesioner dapat disimpulkan bahwa subjek mengalami kesulitan karena harus menyesuaikan antara waktu yang diberikan dengan jumlah butir soal yang cukup banyak agar tes dapat terselesaikan dengan baik. Secara lebih spesifik, subjek menilai bahwa pembacaan teks dan percakapan pada Listening session terlalu cepat, grammar dan vocabulary pada semua session cukup sulit, dan content pada teks reading cukup sulit. Selain itu, alternatif option jawaban yang sangat serupa seringkali membuat subjek ragu-ragu dalam memilih jawaban. Sementara itu, hasil kuesioner juga menunjukkan bahwa subjek memiliki respon yang positif terhadap implementasi teknik Mind Map untuk meningkatkan kemampuan mengerjakan tes TOEFL. Dengan demikian, dapat dikatakan mereka memiliki persepsi yang cukup baik tentang teknik ini. Menurut subjek, teknik ini mempermudah mereka memetakan butir-butir soal sesuai dengan karakteristiknya sehingga mereka pun dapat menerapkan strategi apa yang dapat digunakan untuk menjawab suatu butir soal. Teknik ini membuat proses mengerjakan tes TOEFL menjadi lebih sistematis dan menyenangkan. Selanjutnya, berdasarkan skor yang sudah diperoleh pada pre-test dan post-test, maka dilakukan analisis data untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan kemampuan subjek sebelum dan setelah implementasi teknik Mind Map terhadap mereka. Data diolah dengan menggunakan software SPSS for Windows 16.0. Dari hasil output diperoleh indeks t sebesar-11.621 atau t absolut 11,621. Indeks ini kemudian dibandingkan dengan nilai kritis t pada tabel pada taraf signifikansi 5%. Derajat bebas (df) untuk 31 orang subjek adalah 30, maka diperolehlah indeks ttabel sebesar 2,042. Ini berarti thitung lebih besar daripada ttabel, karenanya hipotesis yang diajukan dapat diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa implementasi teknik Mind Map dapat meningkatkan kemampuan subjek untuk mengerjakan tes TOEFL sehingga skor TOEFL mereka pun dapat meningkat. D. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa teknik Mind Map dapat meningkatkan kemampuan subjek untuk mengerjakan tes TOEFL sehingga skor mereka pun dapat meningkat karena indeks thitung sebesar -11,621 atau t absolut 11,621 lebih tinggi dibandingkan indeks ttabel pada df 30 dan taraf signifikansi 5% yang sebesar 2,042. Sementara itu, kesulitan-kesulitan yang dihadapi subjek meliputi kesulitan dalam menyesuaikan durasi waktu tes yang relatif terbatas, pronunciation pada Listening session, grammar dan vocabulary, serta sulitnya content pada teks reading. Subjek juga memiliki persepsi yang positif terhadap implementasi teknik ini untuk mengerjakan tes TOEFL. Menurut subjek, teknik Mind Map dapat membantu mereka mengerjakan tes TOEFL secara terarah, sistematis, dan menyenangkan. REFERENSI ............., Tes TOEFL, http://www.iief.or .id/ (Dikutip pada tanggal 10 Mei 2011) ............., Tes TOEFL, http://id.wikipedia.org (Dikutip tanggal 10 Mei 2011) Anggiearanidipta Suma, Jurus-jurus Menjawab Tes TOEFL, www.carajawab.com (Dikutip pada tanggal 14 Mei 2011). Anthony, Edward, 1989, English Language Teaching: Approach, Method, and Technique, Cambridge: Cambridge University Press. Brown, Douglas H., 2001, Teaching by Principles: an Interactive Approach to Language Pedagogy, New York: Addison Wesley Longman Inc. Burhan Nurgiyantoro dkk, 2004, Statistik Terapan untuk Penelitian-penelitian Sosial, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Buzan, Tony, 1993, The Mind Map Book, Florida: Buzan Centres Ltd. Buzan, Tony, 2010, Buku Pintar Mind Map (edisi terjemahan), Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Kachru, Braj, 1992, World Englishes: Approaches, Issues, and Resources, Newburry Park: Sage Publications. Mehrens, William A. & Lehmann, Irvin J. , 1993, Measurement and Evaluation in Education and Psychology, New York: Holt, Rinehart and Winston, Inc. Seliger, Herbert W. & Shohamy, Elana, 2003, Second Language Research Methods, Oxford: Oxford University Press. Sharpe, Pamela J., 2002, How to Prepare for the TOEFL Test, Ohio: The Ohio State University Press.

Minggu, 14 Desember 2008

Pendidikan di Indonesia; Solusi dan Masalahnya

sumber : Pesantern UGM
1. Pengantar

Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).
Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.

Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP).

Apa makna data-data tentang rendahnya kualitas pendidikan Indonesia ityu? Maknanya adalah, jelas ada something wrong (masalah) dalam sistem pendidikan Indonesia. Ditinjau secara perspektif ideologis (prinsip) dan perspektif teknis (praktis), berbagai masalah itu dapat dikategorikan dalam 2 (dua) masalah yaitu :

Pertama, masalah mendasar, yaitu kekeliruan paradigma pendidikan yang mendasari keseluruhan penyelenggaran sistem pendidikan.

Kedua, masalah-masalah cabang, yaitu berbagai problem yang berkaitan aspek praktis/teknis yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan, seperti mahalnya biaya pendidikan, rendahnya prestasi siswa, rendahnya sarana fisik, rendahnya kesejahteraaan guru, dan sebagainya.

Walhasil, jika pendidikan kita diumpamakan mobil, mobil itu berada di jalan yang salah yang –sampai kapan pun– tidak akan pernah menghantarkan kita ke tempat tujuan (masalah mendasar/paradigma).

Di samping salah jalan, mobil itu mengalami kerusakan dan gangguan teknis di sana-sini : bannya kempes, mesinnya bobrok, AC-nya mati, lampu mati, dan jendelanya rusak (masalah cabang/praktis).

2. Masalah Mendasar : Sekularisme Sebagai Paradigma Pendidikan

Jarang ada orang mau mengakui dengan jujur, sistem pendidikan kita adalah sistem yang sekular-materialistik. Biasanya yang dijadikan argumentasi, adalah UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 pasal 4 ayat 1 yang berbunyi, “Pendidikan nasional bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan berbudi mulia, sehat, berilmu, cakap, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air.”

Tapi perlu diingat, sekularisme itu tidak otomatis selalu anti agama. Tidak selalu anti “iman” dan anti “taqwa”. Sekularisme itu hanya menolak peran agama untuk mengatur kehidupan publik, termasuk aspek pendidikan. Jadi, selama agama hanya menjadi masalah privat dan tidak dijadikan asas untuk menata kehidupan publik seperti sebuah sistem pendidikan, maka sistem pendidikan itu tetap sistem pendidikan sekular, walaupun para individu pelaksana sistem itu beriman dan bertaqwa (sebagai perilaku individu).

Sesungguhnya diakui atau tidak, sistem pendidikan kita adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Hal ini dapat dibuktikan antara lain pada UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi: Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagaman, dan khusus.

Dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia salih yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.

Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melalui madrasah, institut agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama; sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan dari seluruh aspek kehidupan.

Hal ini juga tampak pada BAB X pasal 37 UU Sisdiknas tentang ketentuan kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang mewajibkan memuat sepuluh bidang mata pelajaran dengan pendidikan agama yang tidak proposional dan tidak dijadikan landasan bagi bidang pelajaran yang lainnya.

Ini jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kacaunya kurikulum ini tentu saja berawal dari asasnya yang sekular, yang kemudian mempengaruhi penyusunan struktur kurikulum yang tidak memberikan ruang semestinya bagi proses penguasaan tsaqâfah Islam dan pembentukan kepribadian Islam.

Pendidikan yang sekular-materialistik ini memang bisa melahirkan orang pandai yang menguasai sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akan tetapi, pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan tsaqâfah Islam. Berapa banyak lulusan pendidikan umum yang tetap saja ‘buta agama’ dan rapuh kepribadiannya? Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan agama memang menguasai tsaqâfah Islam dan secara relatif sisi kepribadiannya tergarap baik. Akan tetapi, di sisi lain, ia buta terhadap perkembangan sains dan teknologi.

Akhirnya, sektor-sektor modern (industri manufaktur, perdagangan, dan jasa) diisi oleh orang-orang yang relatif awam terhadap agama karena orang-orang yang mengerti agama terkumpul di dunianya sendiri (madrasah, dosen/guru agama, Depag), tidak mampu terjun di sektor modern.

Jadi, pendidikan sekular memang bisa membikin orang pandai, tapi masalah integritas kepribadian atau perilaku, tidak ada jaminan sama sekali. Sistem pendidikan sekular itu akan melahirkan insan pandai tapi buta atau lemah pemahaman agamanya. Lebih buruk lagi, yang dihasilkan adalah orang pandai tapi korup. Profesional tapi bejat moral. Ini adalah out put umum dari sistem pendidikan sekular.

Mari kita lihat contoh negara Amerika atau negara Barat lainnya. Ekonomi mereka memang maju, kehidupan publiknya nyaman, sistim sosialnya nampak rapi. Kesadaran masyarakat terhadap peraturan publik tinggi.

Tapi, perlu ingat bahwa agama ditinggalkan, gereja-gereja kosong. Agama dilindungi secara hukum tapi agama tidak boleh bersifat publik. Hari raya Idul Adha tidak boleh dirayakan di lapangan, azan tidak boleh pakai mikrofon. Pelajaran agama tidak saja absen di sekolah, tapi murid-murid khususnya Muslim tidak mudah melaksanakan sholat 5 waktu di sekolah. Kegiatan seks di kalangan anak sekolah bebas, asal tidak melanggar moral publik. Narkoba juga bebas asal untuk diri sendiri. Jadi dalam kehidupan publik kita tidak boleh melihat wajah agama.

Sistem pendidikan yang material-sekularistik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekular. Dalam sistem sekular, aturan-aturan, pandangan, dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Karena itu, di tengah-tengah sistem sekularistik ini lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama.

3. Masalah-Masalah Cabang

Masalah-masalah cabang yang dimaksud di sini, adalah segala masalah selain masalah paradigma pendidikan, yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan. Masalah-masalah cabang ini tentu banyak sekali macamnya, di antaranya yang terpenting adalah sebagai berikut :

3.1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik

Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.

Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama.

3.2. Rendahnya Kualitas Guru

Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.

Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sbb: untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).

Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48% berpendidikan S3).

Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.

3.3. Rendahnya Kesejahteraan Guru

Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya (Republika, 13 Juli, 2005).

Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas.

Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9 Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006).


3.4. Rendahnya Prestasi Siswa

Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.

Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan negara-negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di bawahnya.

Dalam skala internasional, menurut Laporan Bank Dunia (Greaney,1992), studi IEA (Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1 (Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia).

Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.

Selain itu, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-R, 1999 (IEA, 1999) memperlihatkan bahwa, diantara 38 negara peserta, prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA, ke-34 untuk Matematika. Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang disurvai di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61, ke-68, ke-73 dan ke-75.


3.5. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan.

Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut


3.6. Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan

Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

3.7. Mahalnya Biaya Pendidikan

Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.

Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.

Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.

Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang selalu berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”. Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.

Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu Pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit.

Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).

Dari APBN 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN (www.kau.or.id). Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.

Seperti halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Koordinator LSM Education Network for Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin.

Hal senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda Kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), Pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.

Bagi masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Prancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan.

Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.

4. Solusinya

4.1. Solusi Masalah Mendasar

Penyelesaian masalah mendasar tentu harus dilakukan secara fundamental. Itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perombakan secara menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekular menjadi paradigma Islam. Ini sangat penting dan utama.

Ibarat mobil yang salah jalan, maka yang harus dilakukan adalah : (1) langkah awal adalah mengubah haluan atau arah mobil itu terlebih dulu, menuju jalan yang benar agar bisa sampai ke tempat tujuan yang diharapkan. Tak ada artinya mobil itu diperbaiki kerusakannya yang macam-macam selama mobil itu tetap berada di jalan yang salah. (2) Setelah membetulkan arah mobil ke jalan yang benar, barulah mobil itu diperbaiki kerusakannya yang bermacam-macam.

Artinya, setelah masalah mendasar diselesaikan, barulah berbagai macam masalah cabang pendidikan diselesaikan, baik itu masalah rendahnya sarana fisik, kualitas guru, kesejahteraan gutu, prestasi siswa, kesempatan pemerataan pendidikan, relevansi pendidikan dengan kebutuhan, dan mahalnya biaya pendidikan.

Solusi masalah mendasar itu adalah merombak total asas sistem pendidikan yang ada, dari asas sekularisme diubah menjadi asas Islam, bukan asas yang lain.

Bentuk nyata dari solusi mendasar itu adalah mengubah total UU Sistem Pendidikan yang ada dengan cara menggantinya dengan UU Sistem Pendidikan Islam. Hal paling mendasar yang wajib diubah tentunya adalah asas sistem pendidikan. Sebab asas sistem pendidikan itulah yang menentukan hal-hal paling prinsipil dalam sistem pendidikan, seperti tujuan pendidikan dan struktur kurikulum.

4.2. Solusi Masalah-Masalah Cabang

Seperti diuraikan di atas, selain adanya masalah mendasar, sistem pendidikan di Indonesia juga mengalami masalah-masalah cabang, antara lain :

(1). Rendahnya sarana fisik,

(2). Rendahnya kualitas guru,

(3). Rendahnya kesejahteraan gutu,

(4). Rendahnya prestasi siswa,

(5). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,

(6). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,

(7). Mahalnya biaya pendidikan.

Untuk mengatasi masalah-masalah cabang di atas, secara garis besar ada dua solusi yaitu:

Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.

Maka, solusi untuk masalah-masalah cabang yang ada, khususnya yang menyangkut perihal pembiayaan –seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan gutu, dan mahalnya biaya pendidikan– berarti menuntut juga perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintah-lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara.

Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.

Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.

5. Sistem Pendidikan Islam

Seperti diungkapkan di atas, sistem pendidikan Islam merupakan solusi mendasar untuk mengganti sistem pendidikan sekuler saat ini. Bagaimanakah gambaran sistem pendidikan Islam tersebut? Berikut uraiannya secara sekilas.

5.1. Tujuan Pendidikan Islam

Pendidikan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis yang bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter, yakni:

Pertama, berkepribadian Islam. Ini sebetulnya merupakan konsekuensi keimanan seorang Muslim. Intinya, seorang Muslim harus memiliki dua aspek yang fundamental, yaitu pola pikir (’aqliyyah) dan pola jiwa (nafsiyyah) yang berpijak pada akidah Islam.

Untuk mengembangkan kepribadian Islam, paling tidak, ada tiga langkah yang harus ditempuh, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw., yaitu:

1. Menanamkan akidah Islam kepada seseorang dengan cara yang sesuai dengan kategori akidah tersebut, yaitu sebagai ‘aqîdah ‘aqliyyah; akidah yang muncul dari proses pemikiran yang mendalam.

2. Menanamkan sikap konsisten dan istiqâmah pada orang yang sudah memiliki akidah Islam agar cara berpikir dan berprilakunya tetap berada di atas pondasi akidah yang diyakininya.

3. Mengembangkan kepribadian Islam yang sudah terbentuk pada seseorang dengan senantiasa mengajaknya untuk bersungguh-sungguh mengisi pemikirannya dengan tsaqâfah islâmiyyah dan mengamalkan ketaatan kepada Allah SWT.

Kedua, menguasai tsaqâfah Islam. Islam telah mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu. Berdasarkan takaran kewajibannya, menurut al-Ghazali, ilmu dibagi dalam dua kategori, yaitu:

1. Ilmu yang termasuk fardhu ‘ain (kewajiban individual), artinya wajib dipelajari setiap Muslim, yaitu tsaqâfah Islam yang terdiri dari konsepsi, ide, dan hukum-hukum Islam; bahasa Arab; sirah Nabi saw., Ulumul Quran, Tahfizh al-Quran, ulumul hadis, ushul fikih, dll.

2. Ilmu yang dikategorikan fadhu kifayah (kewajiban kolektif); biasanya ilmu-ilmu yang mencakup sains dan teknologi serta ilmu terapan-keterampilan, seperti biologi, fisika, kedokteran, pertanian, teknik, dll.

Ketiga, menguasai ilmu kehidupan (IPTEK). Menguasai IPTEK diperlukan agar umat Islam mampu mencapai kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi dengan baik. Islam menetapkan penguasaan sains sebagai fardlu kifayah, yaitu jika ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan umat, seperti kedokteran, kimi, fisika, industri penerbangan, biologi, teknik, dll.

Keempat, memiliki keterampilan yang memadai. Penguasaan ilmu-ilmu teknik dan praktis serta latihan-latihan keterampilan dan keahlian merupakan salah satu tujuan pendidikan Islam, yang harus dimiliki umat Islam dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagai khalifah Allah SWT. Sebagaimana penguasaan IPTEK, Islam juga menjadikan penguasaan keterampilan sebagai fardlu kifayah, yaitu jika keterampilan tersebut sangat dibutuhkan umat, seperti rekayasa industri, penerbangan, pertukangan, dan lainnya.

5.2. Pendidikan Islam Adalah Pendidikan Terpadu

Agar keluaran pendidikan menghasilkan SDM yang sesuai harapan, harus dibuat sebuah sistem pendidikan yang terpadu. Artinya, pendidikan tidak hanya terkonsentrasi pada satu aspek saja. Sistem pendidikan yang ada harus memadukan seluruh unsur pembentuk sistem pendidikan yang unggul.

Dalam hal ini, minimal ada 3 hal yang harus menjadi perhatian, yaitu :

Pertama, sinergi antara sekolah, masyarakat, dan keluarga. Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur di atas. Sebab, ketiga unsur di atas menggambarkan kondisi faktual obyektif pendidikan. Saat ini ketiga unsur tersebut belum berjalan secara sinergis, di samping masing-masing unsur tersebut juga belum berfungsi secara benar.

Buruknya pendidikan anak di rumah memberi beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan persoalan di tengah-tengah masyarakat seperti terjadinya tawuran pelajar, seks bebas, narkoba, dan sebagainya. Pada saat yang sama, situasi masyarakat yang buruk jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah/kampus menjadi kurang optimum. Apalagi jika pendidikan yang diterima di sekolah juga kurang bagus, maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut.

Kedua, kurikulum yang terstruktur dan terprogram mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi. Kurikulum sebagaimana tersebut di atas dapat menjadi jaminan bagi ketersambungan pendidikan setiap anak didik pada setiap jenjangnya.

Selain muatan penunjang proses pembentukan kepribadian Islam yang secara terus-menerus diberikan mulai dari tingkat TK hingga PT, muatan tsaqâfah Islam dan Ilmu Kehidupan (IPTEK, keahlian, dan keterampilan) diberikan secara bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan anak didik berdasarkan jenjang pendidikannya masing-masing.

Pada tingkat dasar atau menjelang usia baligh (TK dan SD), penyusunan struktur kurikulum sedapat mungkin bersifat mendasar, umum, terpadu, dan merata bagi semua anak didik yang mengikutinya.

Khalifah Umar bin al-Khaththab, dalam wasiat yang dikirimkan kepada gubernur-gubernurnya, menuliskan, “Sesudah itu, ajarkanlah kepada anak-anakmu berenang dan menunggang kuda, dan ceritakan kepada mereka adab sopan-santun dan syair-syair yang baik.”

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mewasiatkan kepada Sulaiman al-Kalb, guru anaknya, “Sesungguhnya anakku ini adalah cahaya mataku. Saya mempercayaimu untuk mengajarnya. Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dan tunaikanlah amanah. Pertama, saya mewasiatkan kepadamu agar engkau mengajarkan kepadanya al-Quran, kemudian hapalkan kepadanya al-Quran…”

Di tingkat Perguruan Tinggi (PT), kebudayaan asing dapat disampaikan secara utuh. Ideologi sosialisme-komunisme atau kapitalisme-sekularisme, misalnya, dapat diperkenalkan kepada kaum Muslim setelah mereka memahami Islam secara utuh. Pelajaran ideologi selain Islam dan konsepsi-konsepsi lainnya disampaikan bukan bertujuan untuk dilaksanakan, melainkan untuk dijelaskan dan dipahami cacat-celanya serta ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia.

Ketiga, berorientasi pada pembentukan tsaqâfah Islam, kepribadian Islam, dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan. Ketiga hal di atas merupakan target yang harus dicapai. Dalam implementasinya, ketiga hal di atas menjadi orientasi dan panduan bagi pelaksanaan pendidikan.


5.3. Pendidikan Adalah Tanggung Jawab Negara

Islam merupakan sebuah sistem yang memberikan solusi terhadap berbagai problem yang dihadapi manusia. Setiap solusi yang disajikan Islam secara pasti selaras dengan fitrah manusia. Dalam konteks pendidikan, Islam telah menentukan bahwa negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan dan mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah. Rasulullah saw. bersabda:

اَلإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَتِهِ

Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Perhatian Rasulullah saw. terhadap dunia pendidikan tampak ketika beliau menetapkan para tawanan Perang Badar dapat bebas jika mereka mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh orang penduduk Madinah. Hal ini merupakan tebusan. Dalam pandangan Islam, barang tebusan itu merupakan hak Baitul Mal (Kas Negara). Tebusan ini sama nilainya dengan pembebasan tawanan Perang Badar. Artinya, Rasulullah saw. telah menjadikan biaya pendidikan itu setara nilainya dengan barang tebusan yang seharusnya milik Baitul Mal. Dengan kata lain, beliau memberikan upah kepada para pengajar (yang tawanan perang itu) dengan harta benda yang seharusnya menjadi milik Baitul Mal. Kebijakan beliau ini dapat dimaknai, bahwa kepala negara bertanggung jawab penuh atas setiap kebutuhan rakyatnya, termasuk pendidikan.

Imam Ibnu Hazm, dalam kitabnya, Al-Ihkâm, menjelaskan bahwa kepala negara (khalifah) berkewajiban untuk memenuhi sarana pendidikan, sistemnya, dan orang-orang yang digaji untuk mendidik masyarakat. Jika kita melihat sejarah Kekhalifahan Islam, kita akan melihat begitu besarnya perhatian para khalifah terhadap pendidikan rakyatnya. Demikian pula perhatiannya terhadap nasib para pendidiknya. Imam ad-Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari al-Wadliyah bin Atha’ yang menyatakan, bahwa di kota Madinah pernah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin al-Khaththab memberikan gaji kepada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar=4,25 gram emas).

Perhatian para khalifah tidak hanya tertuju pada gaji pendidik dan sekolah, tetapi juga sarana pendidikan seperti perpustakaan, auditorium, observatorium, dll. Pada masa Kekhilafahan Islam, di antara perpustakaan yang terkenal adalah perpustakaan Mosul didirikan oleh Ja‘far bin Muhammad (w. 940 M). Perpustakaan ini sering dikunjungi para ulama, baik untuk membaca atau menyalin. Pengunjung perpustakaan ini mendapatkan segala alat yang diperlukan secara gratis, seperti pena, tinta, kertas, dll. Bahkan para mahasiswa yang secara rutin belajar di perpustakaan itu diberi pinjaman buku secara teratur. Seorang ulama Yaqut ar-Rumi memuji para pengawas perpustakaan di kota Mer Khurasa karena mereka mengizinkan peminjaman sebanyak 200 buku tanpa jaminan apapun perorang. Ini terjadi pada masa Kekhalifahan Islam abad 10 M. Bahkan para khalifah memberikan penghargaan yang sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya.

6. Penutup

Wahai kaum Muslim, apakah sistem pendidikan sekuler yang rusak dan bobrok saat ini akan terus kita pertahankan? Apakah sistem pendidikan yang buruk lagi gagal ini akan terus kita lestarikan?

Marilah kita bergegas membangun sistem pendidikan Islam, dalam negara Khilafah, yang akan melahirkan generasi yang berkepribadian Islam. Generasi inilah yang akan mampu mewujudkan kemakmuran dan kemuliaan peradaban manusia di seluruh dunia. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. [OLEH : M. SHIDDIQ AL-JAWI]

Teaching Writing : A Complex Process To Go Through

How is writing like swimming? Give up? Answer: The psycholinguist Eric Lenneberg (1967) once noted, in a discussion of “species specific” human behavior, that human beings universally learn to walk and to talk, but that swimming and writing are culturally specific, learned behaviors. We learn to swim if there is a body of water available and usually if someone teaches us. We learn to write if we are members of a literate society, and usually only if someone teaches us.

Just as there are non-swimmers, poor swimmers, and excellent swimmers, so it is for writers. Why isn’t everyone an excellent writer? What is it about writing that blocks so many people, even in their own native language? Why don’t people learn to write “naturally”, as they learn to talk? How can we best teach second language learners of English how to write? What should we be trying to teach? Let’s look at these and many other related questions concerning with this skill.

TYPES OF CLASSROOM WRITING PERFORMANCE

1. Imitative, or writing down

At the beginning level of learning to write, students will simply “write down” English letters, words, and possibly sentences in order to learn the conventions of the orthographic code. Some forms of dictation fall into this category, although dictations can serve to teach and test higher-order processing as well. Dictations typically involve the following steps:

– Teacher reads a short paragraph once or twice at normal speed.

– Teacher reads the paragraph in short phrase units of three or four words each, and each unit is followed by a pause.

– During the pause, students write exactly what they hear.

– Teacher then reads the whole paragraph once more at normal speed so students can check their writing.

– Scoring of students’ written work can utilize a number of rubrics for assigning points. Usually spelling and punctuation errors are not considered as severe as grammatical errors.

2. Intensive, or controlled

A common form of controlled writing is to present a paragraph to students in which they have to alter a given structure throughout. So, for example, they may be asked to change all present tense verbs to past tense; in such a case, students may need to alter other time references in the paragraph.

Guided writing loosens the teacher’s control but still offer a series of stimulators. For example, the teacher might get students to tell a story just viewed on a videotape by asking them a series of questions: Where does the story take place? Describe the principal character. What does he say to the woman in the car?

3. Self-writing

A significant proportion of classroom writing may be devoted to self-writing with only the self in mind as an audience. The most salient instance of this category in classrooms in note-taking, where students take notes during a lecture for the purpose of later recall. Other note-taking may be done in the margins of books and on odd scraps of paper. Diary or journal writing also falls into this category.

4. Display writing

For all language students, short answer exercises, essay examinations, and even research reports will involve an element of display. For academically bound ESL students, one of the academic skills that they need to master is a whole array of display writing techniques.

5. Real writing

This kind of writing aims at the genuine communication of messages to an audience in need of those messages. Some examples of real writing are post-cards, letters, personal messages, notes for other persons and other informal written texts.

PRINCIPLES FOR DESIGNING WRITING TECHNIQUES

1. Incorporate practices of “good” writers

This first guideline is sweeping. But as you contemplate devising a technique that has a writing goal in it, consider the various things that efficient writers do, and see if your technique includes some of these practices. For examples, good writers

– focus on a goal or main idea in writing,

– perceptively gauge their audience,

– spend some time (but do not too much!) planning to write,

– easily let their first ideas flow onto the paper,

– follow a general organizational plan as they write,

– solicit and utilize feedback on their writing,

– are not wedded to certain surface structures,

– revise their work willingly and efficiently,

– patiently make as many revisions as needed.

2. Balance process and product

Because writing is a composing process and usually requires multiple drafts before an effective product is created, make sure that students are carefully led through appropriate stages in the process of composing. At the same time, don’t get so caught up in the stages leading up to the final product that you lose sight of the ultimate attainment: a clear, articulate, well-organized, effective piece of writing. Make sure students see that everything leading up to this final creation was worth to effort.

3. Account for cultural/literary backgrounds

Make sure that your techniques do not assume that your students know English rhetorical conventions. If there are some apparent contrast between students’ native traditions and those that you are trying to teach, try to help students to understand what it is, exactly, that they are accustomed to and then, by degrees, bring them to the use of acceptable English rhetoric.

4. Connect reading and writing

Clearly, students learn to write in part by carefully observing what is already written. That is, they learn by observing, or reading, the written word. By reading and studying a variety of relevant types of text, students can gain important insights both about how they should write and about subject matter that may become the topic of their writing.

5. Provide as much authentic writing as possible

Whether writing is real writing or for display, it can still be authentic in that the purposes for writing are clear to the students, the audience is specified overtly, and there is at least some intent to convey meaning. Sharing writing with other students in the class is one way to add authenticity. Publishing a class newsletter, writing letters to people outside of class, writing a script for a skit or dramatic presentation, writing a resume, writing advertisements – all these can be seen as authentic writing.

6. Frame your techniques in terms of prewriting, drafting, and revising stages

Process writing approaches tend to be framed in three stages of writing. The prewriting stage encourages the generation of ideas, which can happen in numerous ways:

– reading (extensively) a passage

– skimming and/or scanning a passage

– conducting some outside research

– brainstorming

– listing (in writing – individually)

– discussing a topic or question

– instructor-initiated questions and probes

– freewriting

The drafting and revising stages are the core of writing process. In a process approach, drafting is viewed as an important and complex set strategies, the mastery of which takes time, patience, and trained instruction. Several strategies and skills apply to the drafting/revising process in writing:

- getting started

- “optimal” monitoring of one’s writing (without premature editing and diverted attention to wording, grammar, etc.)

- peer-reviewing for content (accepting/using classmates’ comments)

- using the instructor’s feedback

- editing for grammatical errors

- “read aloud” technique (in small groups or pairs, students read their almost-final drafts to each other for a final check on errors, flow of ideas, etc.)

- Proofreading

7. Strive to offer techniques that are as interactive as possible

It is no doubt already apparent that a process-oriented approach to writing instruction is, by definition, interactive (as students work in pairs and groups to generate ideas and to peer-edit), as well as learner-centered (with ample opportunities for students to initiative activity and exchange ideas). Writing techniques that focus on purposes other than compositions (such as letters, form, memos, directions, short reports) are also subject to the principles of interactive classrooms. Group collaboration, brainstorming, and critiquing are easily and successfully a part of many writing-focused techniques.

8. Sensitively apply methods of responding to and correcting our students’ writing

Error treatment can begin in the drafting and revising stages. The errors can be treated through self-correction, peer-correction, and instructor initiated comments. As we respond to the students’ writing, remember that we are there as an ally, as a guide, as a facilitator. After the final work is turned in, we may indeed have to assume the position of judge and evaluator. Ideally, our responses are in the forms of written and oral comments. Here are some guidelines for responding to the first draft:

– indicate the grammatical errors either directly (say, by underlining) or indirectly (for example, by a check next to the line in which an error occur)

– resist the temptation to rewrite a student’s sentence

– comment holistically, in terms of the clarity of the overall thesis and the general structure organization

– comment on the introductory paragraph

– comment on features that appear to be irrelevant to the topic

– question clearly inadequate word choices and awkward expression within those paragraphs/sentences that are irrelevant to the topic

9. Clearly instruct students on the rhetorical, formal conventions of writing

For academic writing, some features the students should perform to explain, propose solutions, debate, and argue are as follows:

– a clear statement of the thesis or topic or purpose

– use of main ideas to develop or clarify the thesis

– use of supporting details/ideas

– supporting by “telling”: describing

– supporting by “showing”: giving evidence, facts, statistics, etc.

– supporting by linking cause and effect

– supporting by using comparison and/or contrast

EVALUATING STUDENT WRITING

The table below shows the general categories that are often the basis for the evaluation of student writing:

Content

Organization

Discourse

Syntax

Vocabulary

Mechanics

Related ideas

Development of ideas through personal experience, illustration, facts, opinions

Use of description, cause/effect, comparison/contrast

Consistent focus

Effectiveness of introduction

Logical sequence of ideas

Conclusion

Appropriate length

Topic sentences

Paragraph unity

Transitions

Cohesion

Reference

Fluency

Variation

Grammatical

errors

Choice of the words

Spelling

Punctuation

Citation of references (if applicable)

Neatness and appearance


EXERCISE

– Rearrange the paragraph into a good paragraph!

My Terrible Day

(1) I had a terrible day today! (2) I woke up late. (3) I had to hurry. (4) I was hungry. (5) I didn’t eat any breakfast. (6) I got dressed. (7) I grabbed my books. (8) I ran all the way to the bus stop. (9) The bus was just pulling away. (10) I yelled. (11) The bus driver didn’t hear me. (12) I could take a taxi to school. (13) I could walk. (14) I decided to walk.

(15) One hour later, I arrived at school. (16) I had missed my first class. (17) I was late to my second one. (18) After lunch, I had a chemistry test. (19) I hadn’t studied for it. (20) Of course, I failed it.

(21) After school, I walked to the bus stop. (22) It started to rain. (23) I didn’t bring my umbrella. (24) I got soaked. (25) Finally, the bus came. (26) I got on. (27) I reached into my pocket for my bus fare. (28) My pocket was empty. (29) My money was gone! (30) I couldn’t pay the bus fare. (31) I had to walk home in the rain.

(32) At last I got home. (33) I cooked dinner. (34) I burned everything. (35) I ate it anyway. (36) I washed the dishes. (37) I did my homework. (38) I went to bed. (39) In the middle of the night, my bed collapsed. (40) I fell on the floor. (41) I could get up and fix my bed. (42) I could sleep on the floor. (43) I was very tired. (44) I decided to sleep on the floor the rest of the night.

(45) I certainly hope tomorrow will be a better day!

1. Copy sentence 1 without change.

2. Combine sentences 2 and 3.

3. Combine sentences 4 and 5.

I had a terrible day today! I woke up late, so I had to hurry. I was hungry but I didn’t eat any breakfast. I got dressed….

4. Combine sentences 6, 7, and 8.

5. Copy sentence 9 without change.

6. Combine sentences 10 and 11.

7. Combine sentences 12 and 13.

8. Copy sentence 14 without change.

9. Copy sentence 15 without change.

10. Combine sentences 16 and 17.

11. Copy sentence 18 without change.

12. Combine sentences 19 and 20.

13. Copy sentence 21 without change.

14. Combine sentences 22, 23 and 24.

15. Combine sentences 25 and 26.

16. Combine sentences 27 and 28.

17. Copy sentence 29 without change.

18. Combine sentences 30 and 31.

19. Copy sentence 32 without change.

20. Combine sentences 33, 34, and 35.

21. Combine sentences 36, 37, and 38.

22. Combine sentences 39 and 40.

23. Combine sentences 41 and 42.

24. Combine sentences 43 and 44.

25. Copy sentence 45 without change.

Note: Your answer to the starred sentences will be compound sentences with three independent clauses instead of two.

Example: I don’t like to cook, but my roommate does, so she does all the cooking.

Taken from Brown’s Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy and Oshima’s Introduction to Academic Writing


EXERCISE (SENTENCE CORRECTION)

- Change the below sentences into correct sentences!

a. I know my hair needs cut but I never have time go to the barber.

b. The snow keep to fall and the workmen grew tired of try keep the roads clean.

c. They accused him of set fire to the building but he denied has been there on the night of the fire.

d. I must to ask you stop interfere.

e. Did you notice her reads my letter?

f. Ask him coming! Don’t keep him to wait at the door!

g. This book tells you how winning at games without cheat.

h. He made her repeating the message.

i. He heard the clock strikes six and he knew it was time for him getting up.

j. She like begin to knit but hate to finish it in the end.

- Change the below sentences into correct sentences!

a. It no good to write to him. The best way doing it and is going and seeing him right know.

b. They tried avoid to being late because they don’t want to late.

c. I can hear the bell rings but none seem to opening the door.

d. It is pleasant sit by the fire at night and hear the wind howls outside.

e. We heard the engine heard it fell with tremendous crash.

f. The boys next door used to likes make and fly a model aeroplane, but they seem having stopping do that now.

g. It is easy seeing animals on the road in the daylight but it is very difficult avoid hit them.

h. I instructed him do that but he refused do that.

i. My sister prefer go out than sleep now.

j. I had already told him doing it by himself without ask.