Selasa, 18 Agustus 2009

MASALAH-MASALAH PELAFALAN (PRONUNCIATION) YANG DIHADAPI PENUTUR BAHASA INDONESIA YANG MEMPELAJARI BAHASA INGGRIS

Yusti Arini


In English sound system, there are many styles of speech for each individual which is influenced by a variety of causes such as locality, early influences, and social surroundings. The pronunciation of English involves the production of individual or isolated sounds and the utterance of words, phrases, and sentences with correct spelling and stressing and/or rhytm intonation.
Basically, comparing with the English sound system, Indonesian sound system is similar to the English sound system. They are similar in some terms, namely, minimal pairs, similutude, assimilation, elision, and intonation. However, some differences also exist. Some English vowels and consonants do not exist in Indonesian. Indonesian also do not have clusters, stress, and aspirated sounds.
Problems faced by the Indonesians learning English are concerned with the ear, the matter of making foreign sounds, the distribution of the sounds, certain attributes about sounds, fluency, and the relation between pronunciation and conventional spelling. Therefore, they should overcome the problems by deeply understanding the theory of phonology and practicing to pronounce the words correctly.

A. Pendahuluan

Dalam sistem bunyi bahasa Inggris terdapat banyak cara pengucapan pada masing-masing individu yang disebabkan oleh berbagai macam faktor, seperti daerah asal, pengaruh-pengaruh awal, dan lingkungan sosial. Oleh karena itu, banyak ahli bahasa Inggris yang mengemukakan deskripsi rinci tentang satu bentuk pelafalan bahasa Inggris, yang setidaknya dapat dengan mudah dipahami oleh lingkungan pengguna bahasa Inggris, walaupun tidak standar. Bentuk pelafalan tersebut diistilahkan sebagai “Received Pronunciation”, yang berarti ‘pelafalan yang dapat dipahami secara luas’.
Pada kenyataan yang sebenarnya, terdapat sejumlah alternatif pelafalan untuk ribuan kata dalam bahasa Inggris, yang seluruhnya bisa disebut benar. Bagi yang bukan penutur bahasa Inggris, cara pelafalan yang paling cocok untuk dipelajari dikenal sebagai “Slower Colloquial”, cara pelafalan di antara bentuk formal dengan pelafalan yang digunakan dalam perbincangan antar orang yang telah akrab. Cara tersebut merupakan cara yang dapat digunakan sepanjang waktu .
Pelafalan bahasa Inggris melibatkan produksi masing-masing bunyi dan pengucapan kata, frasa, dan kalimat dengan ejaan, penekanan dan / atau intonasi yang benar. Selain itu, terdapat cara bagaimana membaca kata dengan benar yang disebut ‘phonetic transcription’ (transkrip fonetik), yang didefinisikan sebagai sejenis penulisan alfabetik di mana tiap-tiap huruf mewakili satu bunyi. Tujuan transkrip fonetik adalah untuk memberikan informasi yang jelas dan tidak ambigu kepada pembelajar bahasa, misalnya bunyi yang mana yang harus digunakan pada suatu kata atau frasa, dan dalam rangka apa mempergunakan bunyi tersebut. Nilai suatu huruf sangat beragam dan tergantung pada (i) konteks fonetik, dan (ii) bahasa atau dialek yang sedang ditulis .

B. Sistem Bunyi Dalam Bahasa Inggris
Bunyi dalam bahasa Inggris terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Vokal (Vowel)
Vokal didefinisikan sebagai ‘huruf hidup yang dalam pembentukannya udara keluar melalui tenggorokan dan mulut, tanpa hambatan dan penyempitan sehingga tidak ada gesekan yang terdengar’. Ada 12 vokal dalam bahasa Inggris yang dibagi ke dalam tiga kelompok; vokal depan (i:, i, e, æ), vokal tengah (:, , ), dan vokal belakang (a:, כ, כ:, u, u:). Pembagian vokal tersebut tergantung pada lidah dan bibir. Posisi bibir meliputi: bibir tertutup-melebar, bibir netral, bibir terbuka-membulat, dan bibir tertutup-membulat.
No. Symbol Word Phonetic Transcription
1. i: see si:
2. I sit sIt
3. e get get
4. æ mat mæt
5. a: car ka:
6. כ lot l כ t
7. כ: saw s כ:
8. u put put
9. u: too tu:
10.  shut ∫t
11.  another nδ
12. : fur ƒ:


2. Diftong (Diphthong)
Diftong adalah bunyi yang dibuat melalui pemindahan satu posisi vokal ke posisi vokal yang lain. Secara fonetik, diftong diwakili oleh urutan dua huruf, yang pertama menunjukkan posisi mulai dan yang kedua menunjukkan arah pergerakan. Diftong dikelompokkan menjadi dua, yakni diftong tertutup (ei, כ u, ai, au, כi) dan diftong tengah (i, ε, כ, u).
No. Symbol Word Phonetic Transcription
1. ei day dei
2. כu go gכu
3. ai high hai
4. au now nau
5. כi boy bכi
6. i here hi
7. e there δe
8. כ shore ∫כ
9. u tour tu


3. Konsonan (Consonant)
Konsonan adalah bunyi atau huruf (huruf hidup atau mati) yang dalam produksinya udara tidak keluar secara lancar melalui mulut dan tenggorokan, tetapi mengalami hambatan atau penyempitan sehingga terdengar adanya gesekan. Konsonan dapat dikelompokkan menurut (i) titik artikulasi, dan (ii) cara artikulasi.
a. Menurut titik artikulasi
1) Labial, yaitu bunyi dengan titik artikulasi pada bibir. Labial terbagi dua, bilabial, yaitu bunyi yang diartikulasikan oleh dua bibir (p, b, m), dan labio-dental, yaitu bunyi antara bibir bawah dengan gigi atas (f, v).
2) Dental, yaitu bunyi yang diartikulasikan oleh ujung lidah dengan gigi depan (θ, δ).
3) Alveolar, yaitu bunyi yang diartikulasikan oleh ujung lidah dengan gusi (t, d).
4) Palato-alveolar, yaitu bunyi yang diartikulasikan oleh badan lidah dengan langit-langit mulut (t∫,dЗ).
5) Palatal, yaitu bunyi yang diartikulasikan oleh bagian depan lidah dengan langit-langit bagian depan (j).
6) Velar, yaitu bunyi yang diartikulasikan oleh bagian belakang lidah dengan langit-langit bagian belakang (k, g, ŋ).
7) Glottal, yaitu bunyi yang dihasilkan di glottis.
a. Menurut cara artikulasi
1) Plosive, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan menutup rongga udara sepenuhnya (p, b).
2) Affricate, yaitu bunyi yang menyerupai plosive tetapi pemisahan organ-organ artikulator dilakukan tidak terlalu cepat (t∫,dЗ).
3) Nasal, mulut tertutup sepenuhnya, langit-langit bagian belakang tetap rendah sehingga udara secara bebas melewati rongga (m, n, ŋ).
4) Lateral, hambatan terletak pada tengah-tengah mulut, udara secara bebas keluar (l).
5) Rolled, bunyi dihasilkan oleh gerakan cepat dari sejumlah organ yang elastis (r).
6) Flapped, bunyi yang menyerupai konsonan rolled tetapi hanya terdiri dari satu gerakan cepat saja (r).
7) Fricative, bunyi dibentuk dengan menyempitkan rongga udara sehingga keluarnya udara menyebabkan suara hissing (f, v, θ, δ,s,z,∫,З,h).
8) Semi-vowel, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh perpindahan secara cepat organ ucapan dari vokal tertutup ke sejumlah vokal yang lain.





Symbol Word Phon. Trans. Symbol Word Phon. Trans.
p pay peI θ think θIŋ
t tea ti: δ they δeI
k cow kau s say seI
b boy bכI z zoo zu:
d day deI ∫ show ∫כu
g go gכu З measure meЗ
m may meI r ray reI
n no nכu h high haI
ŋ sing siŋ t∫ chuw t∫u:
l low lכu dЗ joy dЗכI
ƒ fee fi: w way weI
v vow vכu j you ju:


4. Kluster (Cluster)
Kluster adalah sejumlah kata yang dibaca dalam satu nafas, misalnya, film, spending, struggle, knuckle dan pronunciation. Untuk memproduksi bunyi bahasa Inggris semacam itu, organ-organ ucapan harus bergerak secara tepat. Dalam produksi bunyi tersebut, udara datang dari paru-paru melalui rongga udara (trachea), dan kemudian melewati kerongkongan, tenggorokan, dan rongga mulut yang diatur oleh organ-organ ucapan.
Selanjutnya, pita suara terletak di tenggorokan; menyerupai dua bibir. Pita tersebut bisa terpisah dan bisa pula tertutup sehingga dapat sepenuhnya menutup rongga udara. Ketika pita suara tersebut saling mendekat dan udara terdesak dalam saluran tersebut, pita suara bergetar, sehingga memproduksi bunyi yang dikenal sebagai ‘voiced’’. Ketika pita suara saling menjauh dan udara melewatinya, bunyi yang dihasilkan dikenal sebagai ‘breathed’’, dan bunyi yang dihasilkan di tengah-tengah glottis sebagai ‘whisper’.

C. Persamaan dan Perbedaan Antara Sistem Bunyi Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia
Pada dasarnya, sistem bunyi dalam bahasa Indonesia serupa dengan sistem bunyi dalam bahasa Inggris. Meskipun demikian, ada sejumlah vokal dalam bahasa Inggris yang tidak muncul dalam bahasa Indonesia. Sejumlah konsonan bahasa Inggris juga tidak muncul dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia juga dikenal adanya diftong, tetapi tidak memiliki kluster. Kluster dalam bahasa Indonesia hanya terjadi pada kata ‘pinjaman’, yaitu kata yang diserap dari bahasa lain. Dalam hal ini, kluster pada bahasa Indonesia diadopsi dari bahasa Inggris. Misalnya, strategi dari /strategy/, struktur dari /structure/, instrumen dari /instrument/, dan sebagainya. Dalam bahasa Inggris, tekanan sangat penting karena mempengaruhi makna suatu kata, sedangkan dalam bahasa Indonesia tekanan tidak begitu penting karena tidak mempengaruhi makna suatu kata. Selain itu, dalam bahasa Inggris terdapat aspirated sound, yang berarti bunyi yang disertai hembusan udara yang mengikutinya ketika diucapkan .
Sejumlah bunyi dalam bahasa Inggris tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia, dan bunyi-bunyi pada kedua bahasa yang memiliki tempat artikulasi yang sama sebenarnya memiliki cara artikulasi yang berbeda. Pada dasarnya, sistem bunyi bahasa Indonesia serupa dengan sistem bunyi bahasa Inggris. Terdapat sejumlah istilah yang ada pada kedua sistem bunyi. Istilah-istilah tersebut adalah:
1. Minimal pairs
Minimal pairs adalah dua kata yang serupa dalam pengucapan tetapi memiliki makna yang berbeda dan satu bunyi yang berbeda.Misalnya saja, kata-kata dalam bahasa Inggris bin /bin/ dengan been /bi:n/, wick /wik/ dengan weak /wi:k/, full /ful/ dengan fool /fu:l/, pen /pen/ dengan pan /pæn/, dan lain sebagainya. Dalam bahasa Indonesia, ban – dan, diri – tiri, dara – tara, kayu – bayu, baik – naik, suka – luka.
2. Similitude
Similitude terbentuk ketika sejumlah ragam bunyi tertentu yang sedang digunakan memiliki kemiripan dengan bunyi yang berdekatan pada suatu kata atau kalimat. Dalam bahasa Inggris, misalnya, berbagai bunyi k yang berbeda digunakan pada banyak kata seperti pada kata curtain /ktn/, cook /kuk/, corner /kכ:n/, record /rikכd/, dan sebagainya. Dalam bahasa Indonesia, pada kata-kata besok, kapan, dialek dan sebagainya.
3. Assimilation
Assimilation adalah proses historis di mana bunyi, yang dipengaruhi oleh bunyi di sebelahnya, digantikan oleh bunyi-bunyi yang lain sejalan dengan berkembangnya suatu bahasa dan dengan demikian sejumlah perubahan tertentu muncul pada pelafalan kata-kata. Misalnya saja, pada bahasa Inggris, kata horse diucapkan /hכ:s/ dan shoe diucapkan /∫u:/, tetapi kata horseshoe diucapkan /hכ: ∫ ∫u:/. Dalam bahasa Indonesia, kata me- + bantu menjadi membantu, terdapat asimilasi antara m dan b.
4. Elision
Elision merupakan proses historis di mana suatu bunyi yang diucapkan lebih dahulu pada suatu kata menjadi hilang ketika kata yang sama diucapkan pada masa-masa selanjutnya. Dalam bahasa Inggris, kata cupboard dibaca /kbd/ dan kindness dibaca /kainnis/. Sementara itu, dalam bahasa Indonesia, prefiks me- + konsonan k,p,t,s akan meluluh, misalnya kata me- + tinju menjadi meninju, me- + pakai menjadi memakai.



5. Intonation
Dalam bahasa Inggris dikenal rising dan falling intonation. Intonasi dalam bahasa Inggris mempengaruhi makna kata tetapi dalam bahasa Indonesia intonasi tidak benar-benar mempengaruhi makna kata.
Di samping persamaan-persamaan di atas, terdapat juga sejumlah perbedaan antara sistem bunyi bahasa Inggris dengan sistem bunyi bahasa Indonesia.
1. Vowels
Tidak seperti bahasa Inggris, pada bahasa Indonesia tidak terdapat vokal i,u:,:,æ, ,כ:,a:.
2. Consonants
Sejumlah konsonan pada sistem bunyi bahasa Inggris tidak terdapat pada bahasa Indonesia. Konsonan-konsonan tersebut adalah v, θ, δ,З,dan ∫.
3. Cluster
Cluster adalah sekelompok bunyi yang dibaca dalam satu nafas. Sebenarnya, dalam bahasa Indonesia juga terdapat cluster, tetapi hanya pada kata-kata ‘pinjaman’ (kata-kata yang dipinjam dari bahasa lain, dalam hal ini bahasa Inggris).
4. Stress
Stress didefinisikan sebagai tingkat tekanan suatu bunyi atau suku kata diucapkan.Dalam bahasa Inggris, stress sangat mempengaruhi makna suatu kata, tetapi dalam bahasa Indonesia stress tidak mempengaruhinya. Dalam bahasa Inggris, stress dapat muncul di awal maupun tengah kata, misalnya, ‘potograph, a’nother, oppor’tunity.
5. Aspirated sound
Aspirated sound adalah bunyi yang disertai oleh satu hembusan udara yang mengikutinya ketika diucapkan, seperti pada p, t, k. Aspirated sound muncul hanya pada suku kata yang ditekan. Misalnya, pea /phi:/, put /phut/, time /thim/, car /kha:/, dan sebagainya.

D. Durasi dalam Bahasa Inggris dan Aturan-aturannya

Durasi suatu bunyi adalah lamanya waktu suatu bunyi diucapkan tanpa terputus dalam suatu kata atau frasa. Durasi bunyi mutlak ini tergantung pada tingkat ucapan; durasi ini merupakan durasi relatif suatu bunyi pada suatu bahasa dan sangat penting bagi pembelajar bahasa . Fakta-fakta penting yang berkaitan dengan durasi pada bahasa Inggris dijelaskan pada aturan-aturan berikut:



1. Durasi suatu diftong relatif lebih panjang daripada vokal murni.
Diphthongs Pure Vowels
code / kכud / cod / kכd /
nose / nכuz / nostril / n כstril /
laid / leid / led / led /
base / beis / best / best /
sail /seil / sell / sel /
late / leit / let / let /

2. Vokal-vokal panjang, yaitu i:, a:, כ:, u:, dan :, memiliki durasi yang lebih panjang daripada vokal-vokal pendek (i, e, æ, , , כ, u,).

Long vowels Short vowels
fern / f:n / fur / f /
bird / b:d / cupboard / kbd /
cord / k כ:d / cod / kכd /
caught / k כ:t / cot / kכt /
hard / ha:d / had / h æd /
barn / ba:n / ban / b æn /

3. Sebuah vokal yang berada pada suku kata terbuka berdurasi relatif lebih panjang daripada yang berada pada suku kata tertutup.

Open syllable Short syllable
he / hi: / heal / hi:l /
fee / fi: / feast / fi:st /
who / hu: / whose / hu:z /
coo / ku: / cool / ku:l /
nor / nכ: / naughty / nכ:ti /
adore / dכ: / adopt / dכ:pt /

4. Vokal yang berada pada suku kata yang ditekan berdurasi relatif lebih panjang daripada yang berada pada suku kata yang tidak ditekan.

Stressed syllable Unstressed syllable
bird / b:d / cupboard / kbd /
first / f:st / canvas / kænvs /
through / θru: / throughout / θruaut /
car / ka: / Carnegi / kanedЗi /


5. Durasi vokal yang diikuti oleh konsonan hidup relatif lebih panjang daripada yang diikuti konsonan mati.

Voiced consonant Voiceless consonant
side / sai.d / sight / sai.t /
robe / rou.b / rope / rou.p /
pig / pi.g / pick / pi.k /
save / sei.v / safe / sei.f /
send / se.nd / sent / se.nt /
sword / sכ:.d / sort / sכ.t /
his / hi.z / hiss / hi.s /
cold / kכu.ld / colt / kכu.lt /
lived / li.vd / lift / li.ft /


E. Masalah-masalah Umum yang Dihadapi Pembelajar Bahasa Inggris
Dari aturan-aturan yang telah dijelaskan di atas, tidak semua dapat dipenuhi oleh pembelajar bahasa Inggris. Ada dua kesalahan yang biasa dilakukan oleh para pembelajar tersebut. Yang pertama, banyak pembelajar asing tidak mengucapkan vokal atau diftong ‘panjang’ dengan durasi yang cukup panjang ketika diakhiri atau diikuti oleh konsonan hidup (voiced), khususnya ketika vokal dan diftong tersebut berada pada suku kata akhir yang ditekan. Yang kedua, banyak pembelajar asing gagal untuk memendekkan vokal atau diftong ‘panjang’ ketika diikuti oleh konsonan mati.
Pembelajar bahasa Inggris seringkali juga membuat sejumlah kesalahan lain dalam mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris . Kesalahan-kesalahan tersebut disebabkan oleh berbagai kesulitan, yaitu:
1. Kesulitan No. I terkait dengan pendengaran. Orang memiliki kepekaan pendengaran yang berbeda dan hal itu mungkin saja dapat menyebabkan kesalahan.
2. Kesulitan No.II terkait dengan masalah mempelajari bagaimana membuat bunyi-bunyi asing dengan organ ucapan kita sendiri.
3. Kesulitan No.III terkait dengan masalah mengetahui dan mengingat; distribusi bunyi yaitu bunyi yang mana yang tepat untuk diucapkan pada suatu kata atau kalimat, dan dalam konteks apa bunyi tersebut diucapkan.
4. Kesulitan No. IV terkait dengan aspek-aspek tertentu bahwa bunyi saling terkait satu sama lain.
5. Kesulitan No.V terkait dengan kelancaran (fluency), yaitu kemampuan untuk mengucapkan keseluruhan rangkaian bunyi (kelompok bunyi) secara mudah dan cepat.
6. Kesulitan No.VI terkait dengan hubungan antara pelafalan (pronunciation) dan ejaan konvensional.
Kesalahan-kesalahan di atas merupakan masalah paling umum yang dihadapi oleh pembelajar. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi seseorang yang sedang mempelajari bahasa Inggris untuk memahami lebih jauh tentang bunyi-bunyi yang sulit dalam bahasa Inggris sehingga dia dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut.


F. Langkah-langkah Untuk Mengatasi Masalah-Masalah Pada Pronunciation
Merupakan suatu yang sangat penting untuk menganalisis permasalahan-permasalahan dalam pronunciation secara menyeluruh. Berdasarkan kesulitan-kesulitan yang telah dibahas di atas, sangatlah penting bagi pembelajar untuk mengetahui sejumlah langkah untuk mengatasi masalah-masalah pronunciation .
1. Metode yang terkait dengan pendengaran
Satu-satunya metode yang efektif untuk melatih pendengaran adalah latihan mendengarkan bunyi secara sistematis. Pembelajar harus menemukan seseorang yang dapat mengucapkan bunyi-bunyi dalam bahasa Inggris secara cepat dan memintanya untuk mendiktekan bunyi-bunyi tersebut satu persatu dan kata-kata asal jadi yang dibuat dari rangkaian bunyi-bunyi tersebut. Dengan diberikan jenis latihan yang tepat, kemampuan mendengar pembelajar akan jauh lebih meningkat; pendengaran yang kurang terlatih akan membaik, dan pendengaran yang sudah terlatih akan semakin membaik lagi.
2. Metode untuk mengatasi kesulitan yang terkait dengan masalah menghasilkan bunyi-bunyi dalam bahasa Inggris dengan organ ucapan kita.
Cara untuk mengatasi kesulitan seperti ini adalah, pertama kali, mempelajari teori organ ucapan (teori fonetik), dan kedua, jika diperlukan, latihan berdasarkan teori-teori tersebut. Pembelajar akan dapat mengucapkan bunyi-bunyi secara tepat dalam waktu sesingkat mungkin jika dia memahami apa yang harus dilakukannya dengan lidahnya, bibirnya, dan organ-organ lainnya. Jadi dia harus memahami posisi di mana organ ucapan harus diletakkan dan apa yang harus dilakukan guna mendapatkan hasil yang diharapkan.
3. Metode untuk mengatasi masalah yang terkait dengan pemahaman dan ingatan, serta distribusi bunyi.
Para pembelajar bahasa Inggris terbiasa untuk melihat ejaan konvensional suatu bahasa guna memperoleh informasi tentang urutan bunyi yang tepat. Sebuah alfabet yang dibentuk berdasarkan satu simbol, dan selalu simbol yang sama, untuk masing-masing bunyi dikatakan bersifat fonetis. Dengan memanfaatkan transkrip fonetik pembelajar dapat menghindari kesalahan pronunciation yang diakibatkan oleh sikap pembelajar yang hanya mendasarkan pada ejaan biasa.
4. Metode untuk mengatasi masalah yang terkait dengan sifat-sifat bunyi yang saling berhubungan satu sama lain.
Masalah ini meliputi penggunaan durasi, tekanan, dan intonasi secara tepat. Informasi yang diperlukan ditunjukkan oleh tanda pada transkrip fonetik.
5. Metode untuk mengatasi masalah yang terkait dengan kelancaran (fluency).
Fluency adalah kemampuan untuk mengucapkan seluruh rangkaian bunyi (kelompok-bunyi) secara mudah dan cepat, tanpa berhenti atau tergagap. Metodenya cukup sederhana: lakukan pengulangan mengucapkan kelompok bunyi yang cukup sulit diucapkan. Kelompok bunyi tersebut awalnya diucapkan secara lambat dan secara bertahap dipercepat. Tindakan-tindakan tertentu harus diulang secara benar sampai pembelajar merasa mudah dan lancar untuk mengucapkannya.
6. Metode untuk mengatasi masalah hubungan antara pronunciation dengan ejaan konvensional.
Tentang hal itu dapat dipahami lebih dalam dengan cara membaca buku-buku fonologi dan membuka kamus bahasa Inggris yang cukup lengkap, sehingga paham tentang cara mengucapkan sebuah kata.

G. Penutup
Dalam mempelajari bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, harus benar-benar dipahami bahwa sistem bunyi bahasa tersebut berbeda dengan bahasa Indonesia. Ada beberapa bunyi dalam bahasa Inggris yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, baik itu dalam bentuk vocal, konsonan, diftong maupun berbagai bentuk bunyi yang lain. Selain itu, dalam bahasa Indonesia tekanan (stress), durasi (length) dan intonasi (intonation) tidak mempengaruhi makna suatu kata atau frasa.
Dikarenakan adanya berbagai perbedaan tersebut, pembelajar bahasa Inggris seringkali mengalami kesulitan yang disebabkan oleh berbagai hal: berbedanya kepekaan pendengaran, permasalahan bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi asing dengan organ ucapan kita, permasalahan distribusi bunyi, dan permasalahan kelancaran. Permasalahan-permasalahan tersebut dapat diatasi dengan berupaya mendalami lagi teori-teori fonologi, rajin membuka kamus untuk mengetahui bagaimana cara mengucapkan suatu kata dan latihan mengucapkannya serta melatih pendengaran dengan cara mendengarkan native speaker baik secara langsung maupun melalui kaset.
Dalam belajar bahasa Inggris, dapat mengucapkan kata, frasa, dan kalimat secara benar, selayaknya ucapan yang dihasilkan oleh penutur bahasa Inggris merupakan tujuan utama. Hal itu menjadi penting karena dalam bahasa Inggris kesalahan pengucapan akan menyebabkan makna kata menjadi keliru pula. Akibatnya, pesan yang ingin kita sampaikan tidak akan dapat diterima dengan jelas.
Berdasarkan uraian tersebut, sangatlah penting memperkenalkan cara pengucapan bahasa Inggris secara benar sejak awal kepada pembelajar bahasa Inggris. Dengan demikian, dapat diharapkan munculnya pembelajar yang mampu menguasai cara-cara pengucapan yang benar dalam bahasa Inggris sehingga akhirnya dapat berbicara menggunakan bahasa Inggris secara lancar dan akurat.


REFERENSI

Gleason, H.A.J., An Introduction to Descriptive Linguistics. New York: Holt, Rinehart & Winston, 1987.

Jones, Daniel, The Pronunciation of English, Cambridge: Cambridge University Press, 1990.

Madya, Suwarsih, Improving Your Pronunciation Through Theory and Practice, Yogyakarta: IKIP Yogyakarta, 1988.

McCarthy, Peter A.D., English Pronunciaton, Cambridge: W. Heffer & Sons Ltd., 1991.

Parera, Daniel Jos, Pengantar Linguistik Umum: Bidang Fonetik dan Fonemik, Flores: Nusa Indah, 1983.

Sahulata, Daniel, An Introduction to Sounds and Sound System of English, Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti Pengembangan LPTK, 1988.

7 komentar:

  1. maksih buat ilmunya..

    kalo mau tanya boleh gak?
    kalo yang pendahuluan itu dikutip dari buku siapa?trs kalo mau dapetin buku2 diatas yg versi free ebook,dicarinya di situs apa?

    (maaf kalo bisa,tolong dibalas secepatnya.lagi butuh banget.makasih..)

    BalasHapus
  2. Nice observation Bu.

    Tapi menurut saya Bu, intonasi tidak mempengaruhi makna kata dalam Bahasa Inggris, sama halnya dengan Bahasa Indonesia. Kedua bahasa ini tidak tergolong bahasa nada.

    BalasHapus
  3. Bu.. Dulu saya pernah kuliah (sekitar 2, 3 th lalu) n masih ingat tentang cara pengucapan kalimat dlm bahasa inggris. Wktu itu dosen saya menjelaskan tentang 'kata2' apa saja ga perlu diucapkan secara jelas. Tapi saya lupa, apa Ibu bisa membantu saya.. Terima kasih.. :-)

    BalasHapus
  4. Makasie banyak ea Miss..!!!
    Ini benar - benar membantu tugas kuliah saya..!!

    BalasHapus
  5. thanks for your post :). that's very bring many benifits :)

    BalasHapus